book | travel | food

Wednesday, May 13, 2015

Dialog Pagi di Puncak Menoreh


“Kapaan?”, tanyanya dengan setengah berteriak sesaat sebelum menaiki anak tangga pertamanya.

“Eh, hah, apa?”, aku sedikit kaget karena masih fokus dengan badan yang agak gemetaran. Selain karena udara pagi buta yang cukup cukup dingin, juga karena mengendarai motor di jalur yang agak curam dan mendaki selalu meninggalkan sensasi gemetar di tubuhku.

“Baiklah, aku pura-pura tidak tau sampai kita sampai di Puncak”, gadis di depanku berkata sebelum aku menjawab apa-apa.

Sambil menggosok-gosok kedua telapak tangan untuk mengusir dingin, aku mengangguk kecil. Tidak terlalu mempedulikan reaksi temanku. Pandanganku sudah terpaku. Di depanku sudah menanti anak tangga yang tersusun dengan rapi. Nampak seperti tentara yang tengah berbaris. Suasana pagi yang masih menyisakan kegelapan, serta kelokan tangga di ujung pandangan mata membuatku tidak bisa melihat puncak anak tangga ini. Tertutup pepohonan, atau karena puncaknya begitu tinggi hingga tak terlihat. Atau jangan-jangan...

“Seperti tidak berujung ya?”Andin, gadis yang berjalan di depanku seperti menyuarakan apa yang kupikirkan. Seperti biasa.

“Iya, mungkin sebenarnya memang tak berujung”, jawabku sambil memberikan cengiran. Pasti menyenangkan jika ratusan anak tangga yang menghampar di depanku ini mengarah ke atas atas dan tak berujung.

“Eh Jia, bukankah kita berdua seperti bidadari yang sedang berjalan pulang kembali ke kahyangan”

Aku mendengarkan perkataan Andin sembari menyadari sekitar. Andin benar. Anak tangga yang tersusun ini mengarah ke atas nampak menuju ke langit. Tentu saja, karena tangga-tangga ini tertanam di bukit paling tinggi di Kota ini. Di kiri kanan kami hanya nampak pepohonan. Terlebih saat melihat ke belakang. Tangga yang telah kami lewati tertutup kabut tipis romantis. Kabut yang nampak abadi karena selalu ada jika kita ke sini di pagi, siang, maupun sore hari. Ah rasanya seperti benar-benar menaiki tangga kahyangan.

“Kamu pernah dengar bahwa Himalaya, puncak tertinggi dunia, oleh kepercayaan tertentu diyakini sebagai tempat tinggal para Dewa. Konon, puncak ini dibuat sebagai peraga kediaman Dewa di Pulau Jawa. Bisa jadi benar. Kita memang sedang menuju kahyangan”, ucapku.

“Wow”. Matanya membulat ketika merespon.

“Tapiii, lebih tepatnya, kita ini dua bidadari nakal yang keasikan main di bumi, lantas baru pagi buta ingat untuk kembali ke kahyangan”

“Haha, benar”, ucapnya.


***

“Aaandiiin, aku mau menikaaah”, kataku sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin. Tidak lama setelah kami menginjakkan kaki di puncak bukit.

“Jiaaaaa” Andin lompat kearahku, kemudian memelukku.

Kamipun berpelukan sambil melompat heboh. Gaya heboh khas kami. Masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Lompat sambil berpelukan. Sesuatu yang agak aneh jika dilakukan sepasang sahabat pria. Haha, inilah enaknya jadi wanita. Untunglah beberapa orang yang juga ada di puncak tidak terusik dengan kehebohan kami. Mereka nampaknya tengah damai menikmati pemandangan dunia dari puncak kahyangan ini.

 “Tapi, aku sudah tauuu hahaa”, ucapnya sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipi kirinya.

“Ahhhh, pasti deh...kali ini tau dari mana?” tanyaku sembari tak lupa menyematkan mimik kesal.

“Suroloyo, tempat yang kamu pilih untuk trip kita ini. Aku sudah bisa menebaknya”

“Karena?”

“Mudah banget. Suro – berani dan Loyo – Mati. Nama tempat ini ‘berani mati’, ya kira-kira begitu setidaknya dari hasil googling-ku. Nah, ingat, Ngga? Dulu kamu pernah bilang, bagimu pernikahan adalah kematian kecil. Di mana seseorang seperti harus mematikan dirinya yang lama dan menghidupkan dirinya menjadi orang baru, tugas baru, status baru. Tak akan sama lagi ucapmu. Saat kamu sebutkan nama tempat yang akan kita kunjungi ini aku tau kalau kamu sudah siap untuk kematian kecilmu”.

“Ah, sial, harusnya aku memilih tempat yang lebih sulit lagi”. 
Aku sebenarnya tidak perlu merasa heran. Beginilah cara kami bersahabat, hingga saat ini. Selalu bisa saling menebak apapun dari tanda-tanda semesta tanpa ucapan. Persahabatan kami cukup berbeda dibanding yang lain. Kami tidak sering berkomunikasi secara langsung maupun melalui segala media. Ini adalah pertemuan setelah  2 taun kami tidak bertemu dan berkabar. Aku iseng mengirim pesan di sosial media. “Suroloyo, siap menanti kita”. Sesingkat itu. Dan, tidak sampai setengah hari muncul balasan. “Jiaa, barusan aku sampe Jogja.  Jam 4 pagi besok kita ketemu di tempat yang pasti kamu tau”. Aku yakin Andin akan sama tertawanya sepertiku melihat pesan masing-masing. Sangat kebetulan. Selalu seperti itu. Begitulah, kami selalu ditakdirkan bertemu di waktu yang seharusnya.

“Aku rasa tempat ini memang tepat. Lihat...”, Andin berkata sambil menunjuk ke satu arah.

Tanpa menjawab, sepertinya aku mengerti yang dimaksud Andin. Mataku melihat ke kabut-kabut pagi yang mulai berarak pergi. Cahaya di sana mulai naik memancarkan percikannya. Cahaya kehidupan.

“Kematian kecilmu akan menjadi awal kehidupan baru yang indah, seperti ini”, tambahnya.


sumber: tourbalijava.com
Aku tidak langsung menimpalinya. Mataku melihat 2 pasangan manis yang ada di sana. Sumbing – Sindoro dan Merapi – Merbabu. Di arah yang sama bisa kulihat samar-samar Candi Borobudur yang tetap menyiratkan aura megah meski dalam ukuran mini. Pemandangan pagi yang begitu menghidupkan hati. Kualihkan pandanganku ke arah sebaliknya. Ada garis batas horizon gelap yang terlihat. Yang kutahu itu batas garis pantai. Mungkin Pantai Glagah, Kulon Progo. Sekarang, aku benar-benar sedang berdiri tepat di perbatasan. Separuh badanku masuk wilayah Magelang, separuh lagi masuk Jogja. Sekarang akupun sedang ada di batas kehidupanku menuju tingkat selanjutnya. Mungkinkah...

“Tenang Jingga Maharani, Mas bergigi rapimu pasti orang yang tepat sebagai partner untuk hidup kembali dari kematian kecilmu” ucapnya sambil terkekeh.

“Andiin, daasar...udah ngga usah sok nebak-nebak apa yang aku pikirin”.

Bercakap-cakap dengan sahabat selalu menjadi momen manis. Ada kalanya kamu ingin berbagi tanpa harus berkata banyak namun orang itu bisa paham dan memberikan respon sesuai, begitulah aku dan sahabatku. Terlebih kami seperti bisa saling menerka apa yang ada dipikiran masing-masing. Pagi, sahabat, puncak kahyangan, dan sebuah kabar baik bukankah sesuatu yang sempurna? 

“Eh, Ndin, sepertinya aku tahu kemana kamu akan mengajakku saat memberikan kabar baikmu”, celetukku.


“Haha...Jia, yang penting sekarang bukan kemananya tapi kabar baikku dengan siapanya hahahaaa”.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .