Wednesday, September 3, 2014

sudah saatnya pulau kelapa punya rumah sendiri

Mulai bulan puasa kemarin saya kembali rajin nulis di blog. Memang sudah semenjak lama niat membersihkan blog ini dari debu-debu intan muncul. Tetapi lagi-lagi hanya sekadar niat. Agustus kemarin akhirnya niat ini tercapai juga, tak lepas dari energi positif yang ditularkan komunitas-komunitas yang saya ikuti. 

Bicara soal nge-Blog, ada hal yang sedari awal ingin saya lakukan sama blog ini. Saya pengen mendaftarkan nama domain sendiri. Bahkan sejak awal bikin blog ini sebenarnya saya ingin langsung mendaftarkannya. Namun apa daya, keinginan numpang di rumah orang (blogspot) secara gratis masih menjadi mental saya saat itu.

Nah, kalau saya punya nama domain sendiri, kira-kira akan jadi seperti itu.

Tidak semua blogger berminat untuk memiliki nama domain sendiri. Ini memang kembali ke kebutuhan blogger masing-masing. Kalau buat saya, punya nama domain sendiri itu memiliki manfaat lebih:

Yang pertama, keren..Eits, jangan ketawa ya. Tetapi menurut saya punya blog dengan nama domain sendiri itu emang keren hehe.  Rasanya kita bebas, mandiri, dan berjati diri. Aih.


Selain itu,  profesional. Terutama untuk blogger yang memang ingin berkiprah di dunia blogging. Punya domain sendiri itu lebih nampak profesional. Terlebih kita jadi bisa punya email dengan embel-embel blog kita. 

Selanjutnya, kapasitas bisa menyesuaikan kebutuhan kita. Pernah mengalami lemot yang luar biasa ketika akan membuka blog, terutama untuk blog yang berisi foto-foto dan video. Bisa jadi ini karena efek kapasitas domain gratisan kita. Dengan punya domain sendiri kita juga bisa menyesuaikan kapasitas kebutuhan blog kita.

Yang terakhir (ini manfaat buat saya pribadi sih), saya bisa bikin stiker dan pin. Iya, dengan daftar nama domain sendiri alamat blog saya akan semakin pendek. Dari www.sipulaukelapa.blogspot.com jadi www.sipulaukelapa.com. Lumayan berkurang kan. Nah ini akan mempermudah niat saya buat bikin stiker dan pin dengan alamat blog. Sedari dulu saya berencana bikin tapi terkendala alamat yang kepanjangan. Lebih-lebih jika ditulis di pin. Bisa-bisa pin super jumbo. Atau kalau dengan ukuran pin umum, jadinya alamat blog saya yang ngga keliatan. 

Kenapa emangnya saya ngebet banget pengen bikin pin dan stiker dengan nama blog? Itu kembali ke manfaat pertama, biar keren  ;D

 ***

Nah, belum lama ini ada event yang diselenggarakan oleh qwords, salah satu web hosting indonesia. Sayangnya saya berhalangan ikut. Alhasil cuma denger dari cerita teman kalau di event itu banyak dibagikan voucher buat daftar nama domain. Hilang deh kesempatan daftar secara gratis. Gini nih, kalau mentalnya masih setengah. Pengen pindah dari domain gratisan ke nama domain sendiri tapi juga secara gratis. Semoga ada kesempatan lagi :)

Kalau pun belum dapat kesempatan voucher gratis lagi, saya tetap sudah membulatkan tekad untuk punya domain sendiri.
Salam,



Qha
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------











---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Sunday, August 31, 2014

Al-Qur'an pertamaku - MyFA

Jarang sekali saya melihat Al-Qur'an yang dikhusukan untuk anak di masa kecil saya. Saya, kakak, dan teman-teman saya belajar membaca Qur'an dengan Qur'an sama yang juga dimiliki orang tua kami. 

Sungguhi inovasi yang cukup baik, ketika tempo hari saya melihat di sebuah toko buku ada Al-Qur'an yang  dibuat untuk segmen anak-anak. Tampilannya berwarna-warni dan menarik, khas anak-anak. Namanya MyFA, singkatan dari My First Al-Qur'an. Qur'an ini ternyata adalah salah satu produk yang dikembangkan oleh Syaamil Qur'an. 

Bukan hanya menarik secara visual bagi anak-anak, MyFA juga memiliki kelebihan dan tambahan lain, yaitu:
  •  Khat tajwid lebih besar
  • Terjemah Kementerian Agama RI
  • Ilustrasi menarik tentang adab membaca Al-Qur’an dengan ilustrasi cerita yang menarik
  • Ada materi Sirah Nabawiyah yang dikemas dengan penyampaian yang ringan dan sederhana dalam judul materi Jejak Rasul.
  • Peta sederhana. Penjelasan melalui gambar terhadap Jejak Rasul
  • Ada materi Sekarang Aku Tahu, yang merupakan materi tematik ayat. Menggunakan bahasa yang ringkas.
  • Doa-doa Harian.
  • Tempat-tempat bersejarah umat Islam di dunia
  • Tokoh-tokoh Islam di dunia
  • Kamus 3 bahasa (Arab- Indonesia-Inggris)
  • User Guide, memudahkan dalam memahami tata letak materi
  • Ilustrasi menarik dan modern yang tidak membosankan
tampilan MyFA

Selain itu, kini MyFA semakin dikembangkan dengan tambahan  ilustrasi yang bisa bersuara dengan bantuan E-Pen.  Jika kita menunjuk ilustrasi dengan e-Pen, cerita menarik pun bisa langsung didengarkan. Pasti menyenangkan :D

 MyFa benar-benar bisa menjadikan Al-Qur'an sebagai sahabat sejak dini :)


Semoga penerus kita selalu menjadi generasi Qur'ani..aamiin
Salam,




Qha

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 http://syaamilquran.com/al-quran-paket-my-first-al-quran-e-pen.html



 

sendal jepit & celengan mimpi

Sebelum mengikat janji kami lupa menanyakan pada masing-masing "Apa mimpimu?" 
 
Maka setelahnya kami pun menjalani rutinitas masing-masing, ia di sana, aku di sini. Dia makan ikan, aku makan bacem. Dia  main perahu di sungai, aku mbecak ke Beringharjo.
LDR memuat kami menjalani hari-hari seperti sebelum menikah namun dengan status berbeda. Sampai tiba-tiba angka waktu itu muncul.

Satu tahun berlalu...
Hay Agustus, 
Aku akan berkabar padamu tentang hari yang kami pinta setahun silam darimu. 

R berhasil mendapat cuti di hari penting ini. Meski hanya bisa pulang sebentar, kami sangat bersyukur. Agar tidak menyia-nyiakannya, kami berencana membuat sebuah perayaan 'sederhana'. Makan malam romantis dan juga membeli cake berhiaskan lilin angka 1. Baiklah, anggap ini rencana sederhana dari seorang korban pembaca novel ala teenlit. 
Untuk menambah manis, kami juga sepakat untuk bertukar kado. Harganya harus kurang dari 50 ribu. Deal.

Nyatanya, 
Hari itu kami merayakannya sambil makan siang. Rencana ber-candlelight dinner, cake, dan ritual penghias lainnya dinyatakan gagal belum berhasil. Hiks. 
Ah, tidak apa-apa, bukankah kami sudah dewasa *menetralkan hati*. Toh masih ada satu hal yang sesuai rencana. Tukar kado. Untung saja yang ini sudah kami persiapkan dengan baik. 

Sebelum menyantap makan siang kami saling menukar kado yang sejak beberapa hari sebelumnya  kami sembunyikan. Tak boleh saling tahu. 

Aku dan R membukanya bersama-sama. Dibuka, diintip, ditarik.
Masing-masing, di balik bungkus kadoku, kadonya, ada sepasang sandal jepit, bukan hanya itu, mereknya pun sama.
Kami refleks saling menatap kemudian tersenyum penuh arti.
Belum pernah kami sesama ini sebelumnya.

Saat senja berlalu, ku cari dirimu
Karena ku selalu senang bersamamu
Hingga pagi pun mau, bila oh denganmu
Karena ku selalu senang bersamamu

Apa mungkin diriku tanpamu?
Rasanya semu

Hingga pagi pun mau, bila oh denganmu
Karena ku selalu senang bersamamu

Apa mungkin diriku tanpamu?
Rasanya semu
Apa mungkin dirimu tanpaku?
Ku rasa kaupun ragu

Hingga pagi pun mau, bila oh denganmu
Karena ku selalu senang bersamamu
 
Senang bersamamu.. senang bersamamu

Naif – Senang Bersamamu

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu tahun,

Memang penting saling mengetahui dengan baik mimpi-mimpi pasanganmu sebelum menikah. Tetapi jauh lebih penting lagi menyatukan mimpi dan  membangunnya bersama. 

Sepasang sendal jepit bermerek sama menyadarkan kami akan hal ini...

Bahwa diantara perbedaan ini kami menyimpan kesamaan, karena itu kami harus mulai bersama.
Kami yang semula cenderung menjalani hal dengan ingin masing-masing mulai saling melihat. Memanfaatkan setiap waktu, baik ketika bertemu maupun via telepon untuk berbagi banyak hal, termasuk mimpi-mimpi kami.

Dan salah satu dari sekian mimpi besar kami sekarang adalah,
Kami ingin tinggal bersama, dalam satu atap
Ini impian nyata sepasang suami-istri LDR. Mungkin kami mulai bosan dengan perbedaan tempat dan jarak. Maka, impian kami sekarang adalah ingin punya sebuah rumah untuk kami tinggal bersama tanpa berjauhan lagi. Sebuah rumah idaman di suatu tempat di kota tercinta, Yogyakarta :)

***
Tentang mimpi, saya yakin setiap orang pasti punya mimpi baik terucap atau tidak. Yang membedakan, ada orang-orang yang sekadar membuat mimpinya menjadi angan-angan belaka dan ada yang sekuat tenaga mengusahakannya. 

Dan seringkali ketika melihat orang lain berhasil mewujudkan mimpinya kita hanya bisa gigit jari, atau mungkin berkata 'mereka memang beruntung'. Duh, yuk jangan hanya gigit jari tetapi buat diri kita juga jadi orang yang beruntung, dengan usaha.

Saya dan R percaya bahwa mimpi memiliki rumah idaman, maupun mimpi-mimpi kami yang lain bisa terwujud jika kami mengusahakannya dengan baik. Jadi kami memulainya dengan serangkaian cara. Bagi kami rangkaian cara ini adalah bagian dari proses untuk meraih impian itu sendiri. 

Maka, beginilah cara-cara kami dalam meraih mimpi. Tak ada salahnya untuk membaginya bukan?

Celengan Mimpi, Merangkapnya agar Tidak Pergi


Pernah mendengar tentang pohon mimpi? Kita menuliskan mimpi dalam selembar kertas kemudian menempelkannya di batang atau ranting pohon. Selain itu, ada juga balon mimpi. Dimana kita menuliskan mimpi kita di balon helium dan menerbangkannya.  Prinsipnya sama, dengan menuliskannya diharapkan agar mimpi yang masih berada di angan tertuang keluar dari diri kita. Lebih melekat dan teringat selalu.


Atas dasar itu, saya dan R memutuskan untuk membuatnya, kami ingin memulai aksi awal untuk mengeluarkan mimpi kami dari sekadar angan.  


Namun, nampaknya pohon mimpi agak sulit disimpan, lantas kami ragu memilihnya. Balon mimpi sebenarnya mengasyikan, tetapi kami agak susah mencarinya dalam waktu relatif singkat. Selain itu kami juga takut mimpi-mimpi akan terlupakan seiring terbangnya balon. 

Akhirnya kami memutar otak untuk mencari ide lain. Yang mudah dan tersedia di rumah.

Dan inilah yang kami buat....................... 

Celengan Mimpi : kami cemplungkan mimpi-mimpi di sini :)


Tidak dengan menggantungnya, menerbangkannya, namun menabungnya di dalam celengan. 

Filosofinya: Kami ingin, selain tertulis dan teringat, mimpi-mimpi juga akan terjaga. Bahkan seperti tabungan, mimpi itu juga akan bisa berbunga dan menciptakan mimpi-mimpi lain.
 
Ternyata mengasyikan, kami menangkap mimpi-mimpi yang bersliweran di kepala, menuliskannya, kemudian mencemplungkannya :). Semoga selalu terjaga di sana sampai saat membobol celengan tiba.
 

Menabung, sekeping, selembar, sehalaman :)


Ini benar-benar menabung dalam arti sebenarnya. 
Sebelumnya, masih adakah yang belum punya tabungan? yuk belajar menabung dari sekarang.
Dalam banyak aspek kehidupan menabung termasuk salah satu hal yang penting untuk dibiasaan. Apalagi buat yang sudah berkeluarga sendiri *benerin tas belanja*. Harus bijak mengelola keuangan dan mengatur jalur kebutuhan. 

Kembali ke mimpi kami, membangun sebuah rumah idaman tentunya membutuhkan anggaran biaya tertentu.  Ya, saya dan R menyadari itu. Jadi kami membiasakan diri untuk menganggarkan tiap bulan untuk mimpi kami ini, dari sekarang.

bang bing bung!

Membayangkan, Mencari inspirasi dan informasi

 
Kami mengidamkan sebuah rumah di salah satu sudut kota tercinta, Yogyakarta. Tidak perlu di pusat kota, karena yang penting lokasinya masih terciprat kesejukan. R ingin rumah bertembok bata, saya ingin punya halaman yang luas yang bisa ditanami buah, sayur, dan bunga. R suka gaya rumah kuno, saya tidak masalah, yang penting harus punya perpustakaan yang juga bisa dinikmati banyak orang

Untuk itu, kami jadi sering browsing tentang rumah-rumah idaman untuk menambah inspirasi. Salah satu rumah yang menarik dan menginspirasi adalah #rumahpintu milik mba Ria Papermoon Puppet. Bukan hanya rumahnya yang menarik, namun juga proses mewujudkannya. R bilang dia mendapati tulisan mba Ria bahwa #rumahpintu berhasil diwujudkan olehnya dan suami setelah 7 tahun mereka tinggal di studio. 

hasil intip di http://instagram.com/riapapermoon
Hasilnya, #rumahpintu memang nampak seperti perwujudan mimpi mereka. Kami yang baru saja memulai mimpi ini jadi lebih semangat lagi. 

Bukan hanya mencari informasi tentang rumah atau konsep yang menginspirasi. Saya dan R pun jadi suka mencari tahu tentang harga rumah ataupun tanah melalui situs-situs properti. Dari situs tersebut kami jadi tahu harga pasaran tanah atau rumah di daerah tertentu. Meski dana belum ada, gapapa kan mencari informasi sana-sani. Siapa tahu rejeki tiba-tiba muncul. Saat itu tiba kami jadi bisa segera melancarkan aksi. aamiin.

Rupanya menyelipkan hal-hal seperti ini disela telepon jarak jauh juga bisa jadi hal yang menyenangkan :)

 

Menceritakannya pada orang lain


Seorang teman pernah mengatakan " Jika kamu punya mimpi ceritakanlah pada orang lain. Mereka bisa menjadi penyambung doa bagi mimpimu". Dan yang saya lihat, dua dari mimpi yang pernah diceritakannya pada saya terwujud, salah satunya belum lama ini.

Mungkin dia benar, tidak perlu malu atau takut menceritakan mimpi kita pada orang lain. Dengan menceritakan pada orang lain kita memperbesar frekuensi mimpi-mimpi kita. 

Memang tidak semua orang bisa dengan mudah menceritakan mimpinya pada orang lain dengan berbagai alasan. Namun, setidaknya bagilah mimpi-mimpi yang kamu punya  dengan orang terdekat, pasangan, atau keluarga. Atau bisa juga lewat tulisan, seperti yang sedang saya lakukan ini :)

Jangan Menjadi Akhir, Biarlah Mengiringi : Berdoa

Ketika usaha-usaha sudah dilakukan maka biarkan doanya merajutnya sempurna. Sebenarnya akan lebih baik jika doa ini selalu ada di setiap usaha yang kita lakukan. Dalam setiap niat, awal, proses. Bukan hanya menjadi akhir setelah semua usaha.

Jangan lupa juga untuk selalu berterimakasih pada-Nya akan setiap kesempatan untuk bermimpi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekarang saya masih tinggal di pondok orangtua sejahtera, R di pulau seberang. Masih berjauhan tapi sudah bermimpi bersama. Selangkah demi langkah kami sedang berproses mewujudkan mimpi-mimpi kami. Pasti akan tercapai pada saatnya nanti.

Semoga sharing di tulisan ini juga bagian dari usaha menarik semesta untuk mewujudkannya. aamiin.

Dan untuk R, selamat melewati satu tahun pertama, love you :)
Salam, 



Qha



ps : makasih che, buat candy machine nya :)
 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Bagaimana dengan kamu? Apa mimpimu? Yuk share di  event kontes mimpi properti


Saturday, August 30, 2014

chemistry: buku rasa jodoh

"Kalau kamu bisa membaca buku ini 3 kali sampai tamat Bapak traktir 'sesuatu' ", ujar Bapak sembari menyodorkan buku bersampul cokelat lusuh. Bukan buku asli nampaknya. Sebuah fotokopian. 

"Okeeee", jawabku bersemangat. Tanpa ada pertanyaan lebih lanjut kuambil fotokopian bersampul cokelat itu. Kubawa ke kursi depan sambil buru-buru ingin membacanya. Padahal Bapak ngga memberikan tenggat waktu. 

Setelah kubuka. Rupanya itu adalah buku tentang alam dan kehidupan bawah sadar. Kalau sekarang aku mengetahuinya sebagai salah satu ilmu Psikologi. 

Umurku 8 tahun.
Tamat membacanya 3 kali selama 2 hari. Dilanjut diskusi dengan Bapak. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Begitulah, semenjak kecil saya membaca berbagai buku. Buku psikologi, agama, ekonomi, bisnis, majalah ibu-ibu, koran pos kota, kompas, komik. 
Sampai saya  mengalami wajib baca sebelum tidur yang baru bisa berhenti ketika kuliah. 

Jadi, apa saya suka baca? Saya suka dan butuh. 
Ada berbagai pertimbangan dalam membeli buku. Yang pertama chemistry. Kadang sebuah buku rasanya memang berjodoh dengan saya. Biasanya saya menikmati pencarian dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Menelusuri rak, tumpukan buku, memilih satu per satu sampai akhirnya merasa menemukannya. Dan ketika menemukannya rasanya sangat bahagia. Serius.

Penulis ternama. Conan Doyle, Agatha Christie, Enid Blyton, Mitch Albom, JK Rowling, Haruki Murakami, Dan Brown, Jostein Gaarder, Meg Cabot, Sapardi Joko Damono, Pramoedya Ananta Toer, Dee Lestari, beberapa dari sederet nama yang karya bukunya selalu menjadi incaran pembaca, termasuk saya. Bahkan bila salah satu bukunya tidak sebaik buku lain, orang cenderung akan tetap membelinya. Penulis yang sudah memiliki nama memang bisa membuat pembaca lebih dari ingin membaca bukunya melainkan juga mengoleksinya.

taukah, siapa beliau?

Yang jadi pertimbangan selanjutnya adalah rekomendasi. Buku yang direkomendasikan dan sedang jadi perbincangan dimana-mana biasanya juga menjadi sasaran saya. Entah karena isinya menarik, kontroversial, berbeda, dan sebagainya.

Butuh. Biasanya menyesuaikan dengan apa yang sedang saya alami. Ketika kuliah, saya menyisipkan membeli buku yang berkaitan dengan psikologi. Saat berencana traveling, saya akan mencari buku yang bisa membantu. Untuk sekarang ini saya membeli buku memasak & merajut (pencitraan hehe). 

Yang terakhir, karena impulsif. Iya, jika sudah seperti ini berbagai pertimbangan yang lewat sesaat bisa langsung dijadikan alasan untuk membeli buku. Karena sampulnya unik, judulnya menarik, bentuknya berbeda, warnanya eye catching, nama penulis tak biasa. Segala macam alasan diiyakan yang penting kantong belanja terisi. Ini terjadi biasanya ketika membeli buku saat habis gajian atau mendapat uang *dilirik suami*.


Banyak yang mempertanyakan sebenarnya apa hal krusial yang tengah dialami dunia penerbitan dan buku di Indonesia. Lagi-lagi bukan satu dua hal menurut saya, dan tentunya saling terkait: 

Minat baca yang masih rendah. Membaca di negara kita belum jadi kebutuhan setiap orang. Untuk soal ini yang bisa membantu menggalakkan tentu kerjasama semua, antara organisasi yang menaungi penerbit, penerbit, pemerintah, maupun kelompok-kelompok yang concern terhadap dunia baca tulis. 

Minat baca yang rendah nyatanya juga sejalan dengan daya beli masyarakat yang rendah terhadap buku. Pada sebagian orang buku masih menjadi barang mahal. Yang mungkin pada kenyataannya memang demikian jika dibandingkan dengan pendapatan orang tsb. Hal ini akhirnya menjadi masalah sendiri. Laju penerbitan yang ingin berkembang pesat terhalang oleh daya beli yang rendah.Akhirnya penerbit cenderung lebih banyak memproduksi buku yang disukai pasar.

Selanjutnya masalah konten. Masih ditemukannya konten yang tidak sesuai dengan usia. Masih ditemukan penerbit yang nakal melanggar aturan soal konten, baik karena konten tersebut berbau kekerasan, SARA & pornografi, maupun buku yang sebenarnya tidak boleh diterbitkan karena melanggar kode etik keilmuan tertentu. Dalam hal ini tentu yang butuh diingatkan adalah penerbit, dan salah satu  yang bisa mengingatkannya juga adalah organisasi yang menaunginya.

Semoga lebih baik untuk semua, Salam




Qha

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Friday, August 29, 2014

IKAPI : merambah pelosok dan membentang di seluruh dunia

Saya mendengarnya ketika berkecimpung di dunia penerbitan buku. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), sebuah asosiasi profesional yang mewadahi para penerbit di Indonesia. Konon, IKAPI dibentuk pada 1950 untuk mengambil alih dominasi Belanda dalam  dunia buku dan penerbitan Indonesia. Kemerdekan buku & penerbitan pun dimulai :)



Sebagai sebuah asosiasi, IKAPI juga memiliki Visi dan Misi:


Visi
Menjadikan industri penerbitan buku di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan dapat berkiprah di pasar internasional.

Misi

Ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui upaya penciptaan iklim perbukuan yang kondusif, pengembangan sistem perbukuan yang kompetitif, dan peningkatan profesionalisme asosiasi serta para anggotanya sehingga perbukuan nasional mampu berperan secara optimal demi mempercepat terbentuknya masyarakat demokratis terbuka dan bertanggung jawab.

***
Merambah pelosok dan membentang di seluruh dunia, ini adalah salah satu peran yang saya harapkan dari IKAPI. 

Mampu merambah pelosok. Menghadirkan dan mendukung kegiatan-kegiatan dalam mengembangan minat baca di daerah-daerah terpencil. Tentunya dengan bekerja sama dengan pihak lain, penerbit, perpustakaan, pemerintah, toko buku, maupun penulis. 

Mampu membentang di seluruh dunia. Membantu penerbit maupun penulis untuk meluncur ke pentas buku dunia. Dalam hal ini setahu saya IKAPI mulai mengumpulkan buku-buku terbaik untuk diterjemahkan  dan akan dipamerkan di ajang Frankfurt Book Fair 2015 dimana Indonesia ditunjuk sebagai Guest of Honour. Sebuah langkah awal yang baik :)

Hal di atas memang mudah dituliskan tapi butuh usaha untuk dilakukan. Saya, sebagai penikmat buku mungkin hanya mampu menjadi pencetus harapan. 

Saya pribadi ketika dihadapkan pada pertanyaan "apa yang bisa saya lakukan jika menjadi pengurus IKAPI?" tidak serta merta mudah menjawab. 

Namun, salah satu reformasi yang akan saya lakukan adalah, berusaha menjalin kerjasama dengan institusi pendidikan, mulai dari jenjang dasar. Bentuknya adalah dengan memasukkan kegiatan '1 jam membaca buku' dalam  kurikulum. Buku yang dibaca bukan hanya buku pelajaran, namun buku apapun yang disukai anak. Tujuannya adalah menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca. Membaca adalah salah satu bekal dalam proses pendidikan sampai tingkat apapun. 

Saya pernah mendengar ini dilakukan di beberapa sekolah. Dan hasilnya cukup memuaskan. Alangkah lebih baiknya jika ini bisa diwajibkan di seluruh sekolah. Kita bisa belajar membentuk pribadi bangsa sejak dini. Bukankah minat membaca mempengaruhi kualitas suatu bangsa.


Salam sukses IKAPI, 



Qha
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

Thursday, August 28, 2014

LDR dan smartphone

Saya belum lama menjadi penikmat teknologi masa kini. 
Bisa dibilang cenderung menyukai hidup di dunia sisa 90-an akhir. 
Bisa telepon dan sms. Cukup itu saja syarat handphone (HP) buat saya.  

Apa daya, teknologi ini menyundul-nyundul di setiap kehidupan, yang membuat saya akhirnya sepakat untuk bersahabat. 

Ada dua  hal yang sukses menyundul saya. Yang pertama  adalah soal kerjaan. Punya HP seadanya dan sempat terjun  di dunia industri kreatif ternyata cukup menjadi masalah. Segala macam update-an kerjaan berurusan dengan internet. Dengan status kepemilikan HP yang 'lugu'  saya jadi agak lama tahu tentang perkembangan kerjaan. Ketika teman-teman sekantor sudah update dengan segala macam  bunyi notifikasi di smartphone masing-masing. Saya masih harus mencet tombol power dulu di CPU dan menanti layar PC menyala (agak drama). 

Yang kedua adalah karena LDR dengan suami (curhat). 
Ternyata punya HP dengan bisa sms dan telepon saja mungkin bisa masuk kategori menzholimi suami (untuk era sekarang). Kalau sms, dan telepon gagal akhirnya tidak bisa berkabar. Dengan smartphone saya bisa mengundul konten aplikasi yang memudahkan untuk berkomunikasi. Terlebih lagi bukan hanya sekadar berkirim teks, kami juga bisa berkirim gambar untuk mengabarkan sedang dimana, sama siapa, lagi apa ;D. 

Ini misalnya, saya bisa tahu suami sedang di mana. Jadi sambil ngobrol bisa sambil membayangkan betapa jauhnya dia ribuan kilometer di sana. hiks. Duh, jadi kangen.
Tapi ngga perlu membayangkan harus jalan kaki ke sana juga sih ya ;)


Maka, jika ditanya lebih memilih gadget atau konten saya pertama-tama cenderung memilih konten. Setidaknya saya melihat terlebih dahulu apakah konten-konten standar yang dibutuhkan sudah tersedia. Kemudian baru saya beralih melihat gadgetnya. Yang saya jadikan dasar pilihan selanjutnya biasanya karena model dan warna. Ah ini memang kelemahan wanita  saya, mendahulukan warna dan model di atas merek dan spesifikasi lainnya. Eh ini saya doang atau wanita lainnya juga seperti itukah? *cari temen*

Lain dengan suami, belum lama ini dia punya niat untuk mengganti smartphone nya yang sudah lawas. Baginya gadget maupun konten sama-sama penting. Jadi bisa mendapatkan keduanya sekaligus adalah lebih baik, tentunya dengan penyesuaian budget. 

Dia adalah tipe orang yang akan mencari tahu semua gadget mulai dari merek, konten, spesifikasi, dll. Jadi dia lebih lama memilih dibanding saya. Sampai sekarang belum jadi beli juga hehe. 
Dari info yang dia kumpulkan sampai sekarang soal gadget dan konten, saya jadi tahu istilah bundling, yaitu sistem yang menggabungkan beberapa produk dalam sebuah penjualan. Jadi ketika kita beli gadget sudah merangkap dengan konten tertentu. 

Beraneka ragam bundling, ada gadget dengan konten khusus anak muda, ada yang dilengkapi dengan konten khusus wanita, maupun fitur lifestyle. Selain itu sekarang ini ada juga gadget yang dilengkapi dengan konten untuk membantu dalam beribadah seperti syaamil note & syaamil tabz. Perkembangan ini membuat kita bisa memilih yang sangat sesuai dengan kebutuhan.

Memang sekarang ini semakin banyak produsen yang melakukan bundling. Kompetisi ke depannya dalam industri ini sepertinya akan lebih spesifik, berusaha memenuhi setiap hal yang dibutuhkan konsumen segala segmen. Nantinya kita sebagai konsumen, yang akan dimanjakan dengan berbagai pilihan.

Jadi apa yang akan kamu jadikan dalam memilih, karena gadgetnya, kontennya, atau?

Salam,



Qha
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Wednesday, August 27, 2014

menjalin kasih dengan cahaya petunjuk

      "Eh, Kalian bisa baca Qur'an ya, berarti bisa bahasa arab?".
Seorang teman kantor bertanya pada saya dan beberapa teman muslim suatu ketika
Deg...saat itu kami semua langsung terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab bersama 
       "Emm engga, mba
Kami menjelaskan bahwa tidak semua orang yang bisa baca Qur'an bisa bahasa Arab/ mengerti artinya. Karena tidak semua yang belajar membaca sekaligus mempelajari artinya. Akhirnya ia mengerti, penjelasan pun selesai.   
Tidak buat saya.

Di lain waktu saat Ramadhan kemarin saya sempat menyaksikan acara para penghapal Qur'an cilik di salah satu stasiun TV. Salah seorang juri, Ustad Yusuf Mansyur menceritakan pengalamannya di masa silam ketika berguru agama di salah satu negara Timur Tengah. Guru tersebut mengetesnya untuk membaca salah satu surat pendek. Ustad memulainya dengan "A'uzubilahi minasy syaitaanir rajiim". Seketika sang calon guru menyetopnya. Dan mengatakan kalau makhraj nya masih belum benar.  
Deg...terus saya?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dulu saya nyaman dengan Qur'an kecil sederhana untuk dibaca. Bisa dibawa kemana-mana. Ringkes, simple. Namun, nampaknya sekarang kebutuhan itu mulai berubah. Ada banyak kejadian sehari-hari yang menjadi pengingat. Rasanya menjadi semacam dorongan untuk bisa belajar dan memahami lebih. 

Dengan dorongan ini, sekarang saya nyaman dengan Qur'an yang berukuran sedang namun dilengkapi dengan terjemahan dan pengingat tajwid. Belajar lagi untuk memahami tiap arti dari yang dibaca juga belajar membaca dengan benar. Alhamdulillah mendapatkan Qur'annya berbonus seorang suami :) - mahar. Ketika awal membacanya saya sempat terkagum-kagum. Terutama melihat huruf arab yang berwarna berbeda sebagai pengingat tajwid. Benar-benar mengingatkan. 
tampilan isi Qur'an berbonus suami :)
Awalnya saya kira inovasi pengingat tajwid sudah merupakan perkembangan luar  biasa dari Qur'an. Namun ternyata masih ada lagi. Beberapa kali ketika memasuki salah satu toko buku saya mendengar lantunan Qur'an yang tepat di sumber suara tersebut dipajang Qur'an dengan sebuah pulpen di atasnya. Setelah mencari tahu ternyata itu adalah e-pen. Sebuah pulpen yang bisa menuntun kita membaca Qur'an jika tidak tahu. Bukan hanya itu saja Qur'an ini dilengkapi dengan dengan terjemahan perkata, DVD interaktif , dan masih banyak lagi. Saya tidak menyangka perkembangannya sudah sejauh ini.

 

Tapi tetap yang lebih menarik perhatian saya adalah edisi Qur'an untuk anak-anak, My First Al-Qur'an (MYFA) E-Pen. Berwarna-warni, banyak gambar, interaktif, berbonus macam-macam juga. 
Satu lagi yang masuk daftar list yang diniatkan untuk dibeli (bantu amini ya :))






Lantas, apakah sudah sampai di sini? Rupanya belum. Ini salah satu inovasi yang sekarang ada. Smartphone android yang dilengkapi dengan aplikasi Qur'an, aplikasi haji & umrah, berbagai e-book, tafsir, panduan-panduan, dll.  Semoga perkembangan ini memudahkan. aamiin.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika membacanya saja berbuah pahala, apalagi lebih dari sekadar membacanya. 
Semoga tulisan ini menjadi pengingat pula bagi saya. 
Bismillah
Salam, 



Qha 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------