Saturday, May 31, 2014

St Krabe Tree?



Ruangan ini lagi. 
Seperti sebuah kapsul transparan yang dipenuhi jendela kaca disekelilingnya.
Aku berjalan menuju  salah satu jendela untuk memastikan keberadaanku. Kudekati salah satu sisi jendela kaca. Kulongok keluar dan menyadari bahwa di atas kapsul ini ada kapsul lain yang bergerak. Semakin kudekatkan wajahku pada kaca untuk melihat kapsul di atasku. Rasanya jarak kapsul itu dan kapsul yang kutempati semakin mendekat, kini tak lagi ada di atasku melainkan sejajar. Dalam garis horisontal aku bisa melihat jelas, di dalam kapsul itu ada seorang anak laki-laki, yang juga sedang menatapku. Wajahnya tirus dengan rambut lurus. Memang garis wajah lainnya tidak begitu jelas. Tapi aku tahu dia sedang tersenyum. Tangannya bergerak, ia menempelkan sesuatu ke kaca yang berisi sebuah tulisan. Ia tersenyum sambil menujuk ke arah tulisan itu. Kutempelkan mataku di kaca berusaha membacanya. Tiba-tiba jantungku berdesir naik. Degubnya lebih cepat tak beraturan. Deg! Di atas. Aku baru sadar. Aku benar-benar berada di atas. Kualihkan mataku ke tulisan. Sepersekian detik sebelum kapsul di depanku bergerak kebawah, aku berhasil membacanya

ST KRABE TREE

Sayup-sayup terdengar bunyi dentangan yang khas. 
Bersamaan dengan itu badanku tersentak kuat. 

Terbangun.
Ah lagi-lagi mimpi yang sama...
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 ***

Tak ada yang aneh dengan mimpi sama berulang-ulang. Aku sering mendengar dan membaca tentang orang yang bermimpi hal sama berkali-kali. Seringkali disebut ‘mimpi pertanda’. Sebagian besar dari mereka akhirnya  mengetahui alasan di balik itu. 

Aku pasti tidak akan merasa aneh jika mimpi ini berulang puluhan kali. Namun mimpiku ini berulang ratusan bahkan ribuan kali. Yang sampai hari ini pun belum kuketahui alasan dibaliknya. 
Mimpi ini muncul  pertama kali semenjak aku bisa ‘bermimpi’. Suara yang sama, alur yang sama, bangunan yang sama, tulisan yang sama. Yang berbeda hanya anak lelaki yang terlihat tersenyum itu . Seingatku hanya dia berubah. Pertama kali kulihat, sosoknya adalah seorang anak kecil dan kini ia sudah menjadi seorang laki-laki dewasa. Jika aku tidak salah, dan aku yakin benar, perubahannya mengikuti usiaku. Aneh.

Jangan tanya apakah aku pernah menceritakannya pada orang lain. Sudah. Waktu kecil aku menceritakannya pada Ayah, Ibu, Kakak, dan seorang teman. Semuanya tidak ada ada yang menganggap serius. Setidaknya mereka tidak merasa itu aneh. Bahkan mereka semua hanya menatapku dengan bingung ketika kuucapkan 'tulisan' dalam mimpiku. Lambat laun aku menyimpannya sendiri. 

Sampai suatu ketika, di usia 9 ku, ada satu orang yang jawabannya cukup memuaskanku. Kakek Anggur. Seorang kakek yang tinggal disebelah rumah. Seorang pensiunan yang sehari-hari hanya mengurusi pohon anggur di belakang rumahnya. Karena itu kupanggil Kakek anggur. Kakek punya banyak sekali buku kiat menanam anggur. Sayangnya belum pernah berhasil memanen anggur yang memuaskan. Tapi aku tahu Kakek tidak hanya menginginkan anggurnya. Ia selalu tampak bahagia mengurusi pohon anggurnya.

Suatu hari, saat kuceritakan mimpi berulang yang kualami, Kakek Anggur langsung menghentikan kegiatannya dan duduk di depanku sambil berkata "Mimpimu aneh sekali". 
Itu dia jawaban yang aku nantikan dari orang lain, pengakuan bahwa ini memang mimpi aneh. 
Kakek bilang dia tidak bisa membantuku. Menurut pendapatnya mimpiku ini pasti sangat berhubungan dengan sesuatu tentang diriku di suatu waktu. Hal misterius katanya.
Saat aku tanya tulisan yang kulihat di mimpi, Kakek juga tidak bisa membantu. Aku bertanya apakah mungkin itu nama sebuah pohon? karena dia memakai kata Tree. Kata Kakek bukan. Dia tidak pernah mendengar ada pohon bernama demikian.  Kakek merasa itu lebih cocok untuk nama sebuah tempat. Lantas ia menambahkan "Sesuatu yang aneh mungkin butuh hal aneh lain untuk menjawabnya". 

Waktu itu aku cuma terkikik dan merasa cukup lega. Lagipula aku tahu ini hal misterius. Dan aku menyukainya.


***

Akhir-akhir ini intensitasnya semakin meninggi. Mimpi itu. 
Masih kuingat kata-kata Kakek Anggur dahulu. Berharap keanehan lain yang bisa menjawabnya segera datang. 

Beberapa waktu ini aku dalam kondisi harus 'istirahat'.
Sehat memang mahal. Entahlah, apakah intensitas mimpi itu yang menjadi penyebabnya. Faktanya aku harus menghabiskan sekian hariku di rumah. Makan - tidur - duduk - istirahat - membaca - tidur dst.

Hari ini kebosananku sudah sampai usus 12 jari. 
Kumatikan televisi dan langsung mengambil benda-benda yang bisa melunakkan kebosananku.
Kemudian melakukan satu-satunya hal yang selalu nyaman kulakukan saat sehat maupun saat harus 'istirahat'.
Membaca sambil tiduran (+ ngemil)
 Ini memang surga dunia.




Sudah cukup lama aku membelinya, namun 'anak terbaru' dari J.K. Rowling - Casual Vacancy ini belum sempat kubaca. Siang ini kupilih, sambil berharap bisa membuatku tenggelam seperti 'anak-anak terdahulunya'.

Di halaman 24 perhatianku sedikit teralih. Ya, sepertinya ada sesuatu yang mengamatiku. Insting merasakan keberadaan makhluk lain pun muncul tiba-tiba. 
Sambil mengabaikan perasaan tersebut, kulanjutkan membaca halaman berikutnya. Namun.... kali ini kembali terasa. Memang cukup terasa. Ada sesuatu yang bergerak di dekat pintu. Ada orang lain. 
Bermodalkan kecintaan pada hal-hal misterius, kuberanikan diri untuk mengalihkan mataku ke arah pintu. 

Daaaaaaaaaaaaaan, tepat di depanku, saling bertatapan denganku, sesosok makhluk kecil sedang berdiri di balik pintu. Benar-benar kecil.



 Ini pasti mimpi.

"Kamu tidak sedang bermimpi" suara serak-serak basah itu  mematahkan batinku.

"Kamu siapa?" tanyaku.

"Panggil aku Mister Potato"

Mister Potato? Tuan Kentang? Hidupku memang aneh. Setelah Kakek Anggur, sekarang adaTuan Kentang. Demi asas kesopanan kupanggil dia sesuai keinginanannya. "Lantas ada perlu apa Mister tiba-tiba muncul di rumahku?" 

"Boleh aku masuk?" 

Tiba-tiba saja dia sudah membuka pintu dan berdiri dengan mantabnya di depanku. Mister kecil ini wajahnya tidak asing. Kumis Pak Radennya, topi nya. Rasanya pernah melihatnya di suatu tempat. Intuisiku mengatakan Dia orang baik. Lagipula kuhargai dia yang telah dandan begitu rapinya untuk bertandang kerumah. Entahlah. Mungkin hari ini aku sedang baik. Maka kujawab, "Tentu saja, silahkan".



Dia berjalan masuk kemudian melompat ke atas kursi kayu di ruangan. "Aku datang untuk membantumu"

Meski sedikit kaget, kuamati dia saat sedang berbicara. Bola matanya tidak bergerak ke banyak arah maupun ke arah tertentu. Dia jujur. (Baiklah, begini efek yang kudapat dari segudang buku detektif di lemari). "Bantuan apa yang ingin kau berikan?", jawabku. 

"Tentang mimpi berulang yang selalu menghantuimu sepanjang hidup"

Kali ini aku benar-benar kaget.

Cepat-cepat dia menambahkan, " Jangan tanya macam-macam. Cukup dengarkan karena aku tidak bisa berlama-lama di sini"

Aku hanya mengangguk. Lagi-lagi karena hal aneh selalu menarik.

"Kamu tahu? kunci untuk menjawab mimpi berulangmuada kalimat tertulis itu. Tidak perlu kamu baca. Cukup amati dan rasakan. Ingat, segala sesuatu tidak harus berada di tempat seharusnya. Ingat itu. Setelah itu kamu akan tahu harus segera kemana, dan mendapatkan jawabannya di sana"

"Lantas..."
Sebelum aku menyelesaikan kalimat, Tuan Kentang pun lenyap seketika dari pandanganku. Hilang. 

***
Tidak di hari yang sama. Mungkin karena terlalu lelah. Mungkin juga karena setengah percaya. Esoknya baru kutulis kalimat dalam mimpiku dalam sebuah kertas.

 ST KRABE TREE

Kuamati dan rasakan. Tanpa berusaha membacanya.
  "Segala sesuatu tidak harus berada di tempat seharusnya"
Kalimat itu terngiang di kepalaku. Berarti sesuatu itu bisa berubah. Tidak harus pada tempatnya. Daan saat itu juga aku melihatnya. Bukan nama sebuah pohon, orang ataupun benda. 
Ya, aku melihat nama tempat itu. Apakah kalian juga melihatnya?

sangat simpel. benar-benar simpel.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
 sebuah anagram.

Saat itu juga, semuanya menjadi jelas dan terang. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalaku. Tapi setidaknya satu pertanyaan sudah berhasil dijawab. Yang pasti akan mengantarkanku pada semua jawaban akan tanda tanyaku. Aku tahu sekarang, tempat pertama yang harus segera kutuju.  

Dari sana akan segera kutemukan semua jawabannya.
Bangunan kapsul?
Anak laki-laki misterius? 
Suara dentang?
Dan ada apa sebenarnya denganku di suatu waktu dahulu?


Kali ini sayup-sayup yang terdengar bukan bunyi dentang, melainkan suara para pria yang ikut mencerahkan hari ini :)

 "Here comes the sun, here comes the sun
And I say it's all right"
  "Here comes the sun, here comes the sun
And I say it's all right"

-The Beatles-
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Di saat sedang istirahat, semua kisah pun bisa beradu.


Apakah kalian ingin tahu selanjutnya? Aku pun ingin.

Wednesday, April 23, 2014

haminsatu kelas inspirasi

tim kelas inspirasi SDN Panjatan [survey & observasi]
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sudah sekian hari badan ini minta diistirahatkan, namun semangat masih meronta
Semoga esok hari ia mau bekerjasama dengan hati dan pikiran, untuk saling berbagi energi dengan wajah-wajah ini.


http://www.youtube.com/watch?v=3Xzd0Jtr1wE


Bismillahirrahmanirrahim...


Kachan

Wednesday, February 26, 2014

kisah keenam

"Bagaimanapun ditiadakan, jarak akan tetap ada.."

Bluk”, kututup si buku biru dengan gambar muka seekor burung dan sangkar itu.
Aku sudah tahu sedari awal, isinya mungkin agak kurang sesuai dengan usia perkembanganku  *eh. 
Toh aku tetap suka, judulnya. Sebenarnya karena perasaan senasib :|

Sudah selesai kubaca. TAMAT.

5 penulis, 5 cerita, dan 5 cinta dalam jarak

Ternyata, masalah yang dialami para tokohnya lebih pelik dibandingkan dengan masalahku [untuk ukuran perkembangan mereka hehe]. 

Aku tidak harus sepanik Shera dalam menjalani hubungan bersama si tampan Marvel. Tunggu! bukan karena R tidak tampan, tetapi lebih pada segala konflik hubungan Shera-Marvel. Di lain kisah, aku sepertinya juga tidak bisa membayangkan bagaimana Arine bisa bertahan dalam hubungan jarak jauh semenjak SMA sampai lulus kuliah. Salut, namun sama sekali tidak berniat berjarak selama itu. Sedangkan 3  kisah lainnya juga mengusung tema hubungan jarak jauh yang tak mudah bagi anak sekolah dan kuliah. 

***

Aku memang harus bersyukur. 

Permasalahan dalam hubungan berjarakku dan R masih dalam tahap cupu jika dibandingkan dengan 5 tokoh yang tertulis di novel itu. 


Masalah kami masih dalam ranah kesal karena tidak dibangunkan di saat yang djanjikan, tertidur saat ponsel masih aktif panggilan, harus merayu earphone agar tidak mengeluarkan suara gemerisiknya di saat yang tidak tepat, juga mengomel akibat sinyal yang tak kunjung bersahabat. Ah, rasanya ingin mengajukan proposal pada provider untuk membangun menara yang bisa memperlancar kiriman suara 2 insan ini [apa deh, chan].


Sedangkan masalah paling berat yang kami hadapi sekarang adalah menanti angka-angka dalam kalender bergeser  ke hari yang telah kami lingkari besar-besar.





Sampai saat ini,
aku masih di sini,  R di sana

Angka 6 sudah terlewati, meski tidak ada separuhnya kami bersama.
Tak mengapa, anggap saja ini kisah keenam yang sedang kami jalani. 
***
Aku tahu, aku bukan pengingat tanggal yang baik, sebaik dirimu. Namun hari ini aku bangun, dan mengingatnya, happy half - year anniversary, R

Selamat makan malam, semoga mengenyangkan, tetap sehat sampai angka hari yang kita nantikan :)

love,



Kachan

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Book
 LDR #CrazyLove by  Ayuwidya, Elsa Puspita, Christina Juzwar, Anjani Fitriana, Riawani Elyta
Publisher : Bentang Belia

Saturday, January 18, 2014

biru untuk hari ini


Biru. Bukan  favoritku. Hampir selalu kuhindari jika membeli apapun. 
Bagiku ia punya karakter tertentu yang tidak semua bisa cocok dengannya. Aku salah satunya.


Aku masih bertanya-tanya. Kenapa biru sering disematkan dengan kesedihan. keresahan, kegalauan hati. 
Seorang gadis periang dan menyenangkan yang kukenal sangat menyukai biru. Meski sering memakai baju biru semangatnya selalu berapi-api. 

R juga sangat suka warna biru. Namun, ia bukan tipe penggalau. Bahkan aku lebih cocok di panggil si galau dibandingkan dengannya.

Jangan-jangan ia tak selalu berasa seperti itu...
Tidak pada semua orang
***

Mungkin karena warna  hari ini,
Mungkin pula karena beberapa waktu yang lalu aku bercerita tentang pesta Prom ku pada R.
Entahlah,


Nyatanya, ia yang kuambil dari rak meja editor di seberangku..
Melengkapi hari ini...








Pagi itu aku memakainya. Dengan hati yang penuh suka. Bertemu Ayu yang hari ini berwarna sama. Bukankah menyenangkan berfoto bersama dengan bacaan pilihan kami. Sedikit bernapas di sela-sela keriuhan udara kantor. 

sore hari,
rintik hujan,
rumah putih, 
Sae Na yang tengah bimbang di antara kakak & adik  tampan, 
Elizabeth Eulberg yang berhasil menyulap pride & prejudice-Jane Austen dalam kisah cinta menarik remaja,
dan biru.


Thanks, Blue..
We're feeling so 'you' :)


Kachan & Ayu



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Book
 Prom & Prejudice (english version) by  Elizabeth Eulberg
Publisher : Penguin Book

Comic
Love for Sae Na by Hyun-Suk Yu 
Publisher : Bentang Belia

Sunday, December 22, 2013

+1 Ibu


Sepanjang hari ini Jogja di guyur hujan.
Pukul 19.10 WIB, dan  aku berada di kawasan Sudirman. Mencari mie jawa. Permintaan ibuku.
                                                         
                                         ***

Ini hari ke empat Bapak di rumah sakit.
Aku dan ibu menjaga bersama, Kami tidur di kasur sebelah Bapak. Pagi ini, begitu bangun kupeluk ibu dengan ‘lebay’ sambil bilang “selamat hari ibuuu. mau apa, bu hari ini?”. Beliau menjawab " Nanti malam makan Mie Jawa ya, kamu beliin, makan bareng di sini". Kuiyakan.
Ya, mungkin ibu bosan dengan makanan di sekitar rumah sakit. Meskipun di depan rumah sakit  berjajar tempat makan, namun masakannya serupa. Sama persis malah. 
Selain itu aku yakin bisa memenuhi keinginan  ibuku ini. Dibenakku sudah muncul nama warung Mie Jawa yang terkenal enak. 

                                          ***
Sudah hampir setengah jam berputar-putar di sekitar Jalan Sudirman, tidak kutemukan juga mie jawa. Warung mie jawa yang ada di benakku tadi siang ternyata tutup. Entah, mungkin pemiliknya pun tengah sibuk berhari ibu di rumah masing-masing. Mungkin.

Akhirnya kutepikan motorku, mengeluarkan HP, menelpon seseorang. “Mas, mie Jawa sekitar UGM di mana ya?” tanyaku tanpa babibu. Orang di seberang pulau sana, memberikan sebuah alamat warung. Segera kunyalakan motor kembali dan menuju alamat tersebut. Syukurlah, ternyata warung bakmi Jawa itu buka. Berhasil.
                                        ***
Dengan tergopoh-gopoh aku melesat di lorong-lorong rumah sakit. Sudah pukul 19.47. Aku takut ibu kelaparan.

Ternyata, Ibu memang sudah menantikan mie jawa ini daritada. Ucapan "nah, akhirnya datang juga" mengisyaratkan hal ini bukan? 

Acara makan bersama segera kami mulai. Mie jawa sudah tersaji di hadapan saya dan ibu. Mari makan.
Daaan tiba-tiba, “Kaa, kok ngga enak mienya”. Deg! Kuhampiri ibu dan mienya. Aku cicipi. Benar, ternyata ngga enak. Aku beralih ke mieku sendiri yang berbeda jenis . Kucicipi dan sama saja. Ngga enak. Sama sekali. Ah rasanya agak sedih. Merasa sedikit gagal memenuhi keinginan ibu di hari ibu. 

"Ngga papa, karena lapar jadi tetep enak kok, makasih yaa", ibu menambah. 

Ucapan terimakasih ibu masih tergiang-ngiang setelah acara makan Mie Jawa selesai. JLEB! aku tertohok. Sepertinya aku jarang mengucapkan terimakasih untuk hal-hal yang lebih besar dari ini. Betapa banyak ingin yang kuminta dari ibu  sepanjang usia ini. Lebih dari sekadar ingin makan Mie Jawa. Dan, lupa untuk mengatakan terimakasih. 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebelum menyelesaikan tulisan ini. Aku memberi diriku waktu 10 menit.Mengingat-ingat, kemudian  menuliskannya, hal-hal yang  membuatku mengucapkan terimakasih pada ibu. 
10 menit ini berbunyi sesuai ingatku . . .

terimakasih, untuk...
- gendongan cepat dan tepukkan hangat ketika jari manisku terluka saat aku mencoba     memotong kuku sendiri, 1992
tidak memarahiku yang memberhentikan tukang jamu, beli & meminumnya, kemudian kabur dan ngumpet di balik meja karena ngga punya uang buat bayar, yang akhirnya penjual Jamu itu mencarimu, 1993
- menceritakan banyak  cerita dongeng sebelum tidur,  hingga 1998
binar sedih namun lega di hari bahagia anakmu ini. Ya, di hari bahagia anakmu dengan pria yang memberi alamat Mie Jawa tadi. Nanti akan kucubit lengannya saat iya pulang, karena memberikan saran yang   Agustus 2013






Pernahkah kamu mengingat kebaikan-kebaikan ibumu?
10 menit saja, tuliskanlah



Salam..


Anak ragil ibu 

Tuesday, November 12, 2013

Selesai ditulis 10.24 pm


Selamat malam,

Sekarang di sini pukul 9.48, 10.48 di sana.

Meninggalkanmu sejenak di ujung telepon. Mengerjakan PR ucapku. Iya ini PR penting bukan?


Maaf,  tadi malam aku mengantuk dan ketiduran di telpon. Dipukul 23. 30 an menit.
Menjelang 30 menit menuju hari ini. Iya, aku gagal memberi ujian tepat di pukul 00.01.
Kurang romantis menurutmu.
Setidak romantis saat aku bertanya langsung padamu 'mau kado apa?', 'alamat kantormu?'.
Belum lagi kenyataan sampai sekarang aku belum sempat mencarikan hadiah untukmu. Maaf yang kedua ya.
Tapi aku janji akan menyicilnya :)


 hah apa ini? 2008 

Selamat hari lahir kekasihku, sahabatku..
doa-doa baik untukmu sepanjang masa..

Ayo pulang, kita buat segudang foto bersama. Agar aku tak perlu mengais-ngais foto2 di foldermu untuk menemukan sisa pertemanan kita...





Salam ,


Si istri

Thursday, October 31, 2013

Jogjaku Terang, Jogjaku Nyaman


Ada satu kebiasaan masa kecil yang dulu sering saya lakukan bersama pasangan kakek-nenek tetangga untuk menikmati Jakarta. Saya mengelilingi Jakarta bersama Kakek & Nenek  dengan mobil tua mereka. Mereka minta ditemani untuk bernostalgia dengan mobil tua, saya menemani sambil menikmati lampu-lampu cantik di sepanjang jalan.  Kami berjasama dengan baik. Hampir setiap minggu J

Dari balik kaca mobil yang hampir sudah tidak bisa ditutup itu saya menikmati cahaya berwarna-warni di sepanjang jalan. Favorit saya adalah gedung-gedung di sepanjang Kuningan, Sudirman, dan tentu saja kawasan Monas.

Saya terpikat pesona cahaya lampu-lampu kota,
sejak itu saya sangat menyukai Jakarta, dimalam hari.
***

“Kota Terang Hemat Energi”
Pernah mendengar tentang ini? Saya pernah, tepatnya baru saja. Meski jargon tsb sudah ada semenjak tahun lalu, jujur saya baru benar-benar tahu belum lama ini.  Nah, Kota Terang Hemat Energi (KTHE) adalah program  kerjasama Philips dan pemerintah untuk mewujudkan kota terang yang nyaman huni.

Kota berbeda dengan desa. Hunian di kota lebih padat dibanding desa. Umumnya di lingkungan kota sulit ditemukan lahan kosong. Solusinya, dibangun banyak ruang publik di kota. Gunanya? Tentu saja agar masyarakat kota punya ruang yang bisa digunakan untuk kegiatan mereka. Untuk kumpul komunitas, ngobrol, atau sekedar kongkow.

Dan disinilah KTHE ingin berperan. Memberi penerangan bagi ruang publik di malam hari. Pencahayaan ruang publik yang baik dipercaya akan mampu meningkatkan perannya terhadap masyarakat. Ruang publik tersebut akan tetap nyaman dalam suasana malam sekalipun. Mungkin bahkan jauh lebih nyaman & menarik daripada siang hari.

Sebagai awalan, KTHE melirik landmark kota sebagai ruang publik yang banyak didatangi masyarakat untuk di terangi dengan cahaya lampu-lampu LED Philips.  Dan tahun lalu, Monas adalah ikon landmark pertama yang diterangi sedemikian rupa.



Monas saat itu diterangi oleh puluhan? Ratusan? Atau mungkin ribuan lampu LED. Cantik ya. . .
Bukan hanya sekedar menerangi, KTHE juga mengenalkan masyarakat pada lampu hemat energi Philips LED. 

Yang belum tahu, Lampu Philips LED itu memang bukan sekadar lampu biasa (saya pake lho? *kayak promosi*).  Eh tapi beneran, Philips LED ini memang produk  yang inovatif yang hemat energi.  Lampu Philips LED ini sangat aman dan ramah terhadap lingkungan. Lampunya  ngga mudah panas dan cahayanya juga nyaman dimata. Bisa pelototin lampu berjam-jam kalau mau  ;p.  Selain itu, lampu ini juga bergaransi 2 tahun, mantab kan? Dan yang ngga kalah WOWnya, si lampu Philips LED ini tahan hingga 15 tahun. Iya 15 tahun. Hha?  Kebayang ngga? Jadi kalau kamu pakai lampu Philips LED saat  baru masuk kuliah trus pas lampunya diganti kamu masih juga dibangku kuliah (yang sama), itu kebangetan BANGEEEET (ngga nyantai). Ngga salah emang si Philips ini pake tagline “Satu Lampunya, Panjang Umurnya”. Panjang banget umurnya ya. Cahayanya bisa menjadi saksi banyak kisah J.

Nah beberapa hari yang lalu saya dapat informasi kalau kota yang disambangi Philips untuk program KTHE selanjutnya adalah Jogjaaaa. Bisa tebak ikon apa kira-kira yang akan di percantik dengan lampu-lampu Philips LED?
Iya, saya tahu kalian pasti benar menebaknya. Tentu apalagi ikon kota ini kalau bukaaaaan Tugu Jogja. Yak, setelah belum lama diperlebar, dicat, di buatkan taman, daaan sekarang akan dipercantik dengan lampu-lampu. Kira-kira seperti apa ya nanti? Semakin menarikkah? atau? 

Nah, dari pada menduga-duga, besok Sabtu teman-teman bisa melihatnya secara langsung. Buat teman-teman yang penasaran, bisa langsung hadir untuk menyaksikannya di hari Sabtu 2 November nanti di tugu Jogja. 
KTHE hadir bukan hanya sekedar menerangi tugu Jogja. Ada banyak lomba-lomba yang bisa teman-teman ikuti. Coba cek di infonya di https://www.facebook.com/PhilipsLightingIndonesia/app_143894575791504



***
Semoga penerangan Philips di Tugu Jogja bisa menjadi doa juga agar kita dan Jogja bisa terus bercahaya dalam hidup.


Jogjaku benderang, jogjaku nyaman..
Salam


Kachan