Friday, August 29, 2014

IKAPI : merambah pelosok dan membentang di seluruh dunia

Saya mendengarnya ketika berkecimpung di dunia penerbitan buku. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), sebuah asosiasi profesional yang mewadahi para penerbit di Indonesia. Konon, IKAPI dibentuk pada 1950 untuk mengambil alih dominasi Belanda dalam  dunia buku dan penerbitan Indonesia. Kemerdekan buku & penerbitan pun dimulai :)



Sebagai sebuah asosiasi, IKAPI juga memiliki Visi dan Misi:


Visi
Menjadikan industri penerbitan buku di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan dapat berkiprah di pasar internasional.

Misi

Ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui upaya penciptaan iklim perbukuan yang kondusif, pengembangan sistem perbukuan yang kompetitif, dan peningkatan profesionalisme asosiasi serta para anggotanya sehingga perbukuan nasional mampu berperan secara optimal demi mempercepat terbentuknya masyarakat demokratis terbuka dan bertanggung jawab.

***
Merambah pelosok dan membentang di seluruh dunia, ini adalah salah satu peran yang saya harapkan dari IKAPI. 

Mampu merambah pelosok. Menghadirkan dan mendukung kegiatan-kegiatan dalam mengembangan minat baca di daerah-daerah terpencil. Tentunya dengan bekerja sama dengan pihak lain, penerbit, perpustakaan, pemerintah, toko buku, maupun penulis. 

Mampu membentang di seluruh dunia. Membantu penerbit maupun penulis untuk meluncur ke pentas buku dunia. Dalam hal ini setahu saya IKAPI mulai mengumpulkan buku-buku terbaik untuk diterjemahkan  dan akan dipamerkan di ajang Frankfurt Book Fair 2015 dimana Indonesia ditunjuk sebagai Guest of Honour. Sebuah langkah awal yang baik :)

Hal di atas memang mudah dituliskan tapi butuh usaha untuk dilakukan. Saya, sebagai penikmat buku mungkin hanya mampu menjadi pencetus harapan. 

Saya pribadi ketika dihadapkan pada pertanyaan "apa yang bisa saya lakukan jika menjadi pengurus IKAPI?" tidak serta merta mudah menjawab. 

Namun, salah satu reformasi yang akan saya lakukan adalah, berusaha menjalin kerjasama dengan institusi pendidikan, mulai dari jenjang dasar. Bentuknya adalah dengan memasukkan kegiatan '1 jam membaca buku' dalam  kurikulum. Buku yang dibaca bukan hanya buku pelajaran, namun buku apapun yang disukai anak. Tujuannya adalah menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca. Membaca adalah salah satu bekal dalam proses pendidikan sampai tingkat apapun. 

Saya pernah mendengar ini dilakukan di beberapa sekolah. Dan hasilnya cukup memuaskan. Alangkah lebih baiknya jika ini bisa diwajibkan di seluruh sekolah. Kita bisa belajar membentuk pribadi bangsa sejak dini. Bukankah minat membaca mempengaruhi kualitas suatu bangsa.


Salam sukses IKAPI, 



Qha
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

Thursday, August 28, 2014

LDR dan smartphone

Saya belum lama menjadi penikmat teknologi masa kini. 
Bisa dibilang cenderung menyukai hidup di dunia sisa 90-an akhir. 
Bisa telepon dan sms. Cukup itu saja syarat handphone (HP) buat saya.  

Apa daya, teknologi ini menyundul-nyundul di setiap kehidupan, yang membuat saya akhirnya sepakat untuk bersahabat. 

Ada dua  hal yang sukses menyundul saya. Yang pertama  adalah soal kerjaan. Punya HP seadanya dan sempat terjun  di dunia industri kreatif ternyata cukup menjadi masalah. Segala macam update-an kerjaan berurusan dengan internet. Dengan status kepemilikan HP yang 'lugu'  saya jadi agak lama tahu tentang perkembangan kerjaan. Ketika teman-teman sekantor sudah update dengan segala macam  bunyi notifikasi di smartphone masing-masing. Saya masih harus mencet tombol power dulu di CPU dan menanti layar PC menyala (agak drama). 

Yang kedua adalah karena LDR dengan suami (curhat). 
Ternyata punya HP dengan bisa sms dan telepon saja mungkin bisa masuk kategori menzholimi suami (untuk era sekarang). Kalau sms, dan telepon gagal akhirnya tidak bisa berkabar. Dengan smartphone saya bisa mengundul konten aplikasi yang memudahkan untuk berkomunikasi. Terlebih lagi bukan hanya sekadar berkirim teks, kami juga bisa berkirim gambar untuk mengabarkan sedang dimana, sama siapa, lagi apa ;D. 

Ini misalnya, saya bisa tahu suami sedang di mana. Jadi sambil ngobrol bisa sambil membayangkan betapa jauhnya dia ribuan kilometer di sana. hiks. Duh, jadi kangen.
Tapi ngga perlu membayangkan harus jalan kaki ke sana juga sih ya ;)


Maka, jika ditanya lebih memilih gadget atau konten saya pertama-tama cenderung memilih konten. Setidaknya saya melihat terlebih dahulu apakah konten-konten standar yang dibutuhkan sudah tersedia. Kemudian baru saya beralih melihat gadgetnya. Yang saya jadikan dasar pilihan selanjutnya biasanya karena model dan warna. Ah ini memang kelemahan wanita  saya, mendahulukan warna dan model di atas merek dan spesifikasi lainnya. Eh ini saya doang atau wanita lainnya juga seperti itukah? *cari temen*

Lain dengan suami, belum lama ini dia punya niat untuk mengganti smartphone nya yang sudah lawas. Baginya gadget maupun konten sama-sama penting. Jadi bisa mendapatkan keduanya sekaligus adalah lebih baik, tentunya dengan penyesuaian budget. 

Dia adalah tipe orang yang akan mencari tahu semua gadget mulai dari merek, konten, spesifikasi, dll. Jadi dia lebih lama memilih dibanding saya. Sampai sekarang belum jadi beli juga hehe. 
Dari info yang dia kumpulkan sampai sekarang soal gadget dan konten, saya jadi tahu istilah bundling, yaitu sistem yang menggabungkan beberapa produk dalam sebuah penjualan. Jadi ketika kita beli gadget sudah merangkap dengan konten tertentu. 

Beraneka ragam bundling, ada gadget dengan konten khusus anak muda, ada yang dilengkapi dengan konten khusus wanita, maupun fitur lifestyle. Selain itu sekarang ini ada juga gadget yang dilengkapi dengan konten untuk membantu dalam beribadah seperti syaamil note & syaamil tabz. Perkembangan ini membuat kita bisa memilih yang sangat sesuai dengan kebutuhan.

Memang sekarang ini semakin banyak produsen yang melakukan bundling. Kompetisi ke depannya dalam industri ini sepertinya akan lebih spesifik, berusaha memenuhi setiap hal yang dibutuhkan konsumen segala segmen. Nantinya kita sebagai konsumen, yang akan dimanjakan dengan berbagai pilihan.

Jadi apa yang akan kamu jadikan dalam memilih, karena gadgetnya, kontennya, atau?

Salam,



Qha
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Wednesday, August 27, 2014

menjalin kasih dengan cahaya petunjuk

      "Eh, Kalian bisa baca Qur'an ya, berarti bisa bahasa arab?".
Seorang teman kantor bertanya pada saya dan beberapa teman muslim suatu ketika
Deg...saat itu kami semua langsung terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab bersama 
       "Emm engga, mba
Kami menjelaskan bahwa tidak semua orang yang bisa baca Qur'an bisa bahasa Arab/ mengerti artinya. Karena tidak semua yang belajar membaca sekaligus mempelajari artinya. Akhirnya ia mengerti, penjelasan pun selesai.   
Tidak buat saya.

Di lain waktu saat Ramadhan kemarin saya sempat menyaksikan acara para penghapal Qur'an cilik di salah satu stasiun TV. Salah seorang juri, Ustad Yusuf Mansyur menceritakan pengalamannya di masa silam ketika berguru agama di salah satu negara Timur Tengah. Guru tersebut mengetesnya untuk membaca salah satu surat pendek. Ustad memulainya dengan "A'uzubilahi minasy syaitaanir rajiim". Seketika sang calon guru menyetopnya. Dan mengatakan kalau makhraj nya masih belum benar.  
Deg...terus saya?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dulu saya nyaman dengan Qur'an kecil sederhana untuk dibaca. Bisa dibawa kemana-mana. Ringkes, simple. Namun, nampaknya sekarang kebutuhan itu mulai berubah. Ada banyak kejadian sehari-hari yang menjadi pengingat. Rasanya menjadi semacam dorongan untuk bisa belajar dan memahami lebih. 

Dengan dorongan ini, sekarang saya nyaman dengan Qur'an yang berukuran sedang namun dilengkapi dengan terjemahan dan pengingat tajwid. Belajar lagi untuk memahami tiap arti dari yang dibaca juga belajar membaca dengan benar. Alhamdulillah mendapatkan Qur'annya berbonus seorang suami :) - mahar. Ketika awal membacanya saya sempat terkagum-kagum. Terutama melihat huruf arab yang berwarna berbeda sebagai pengingat tajwid. Benar-benar mengingatkan. 
tampilan isi Qur'an berbonus suami :)
Awalnya saya kira inovasi pengingat tajwid sudah merupakan perkembangan luar  biasa dari Qur'an. Namun ternyata masih ada lagi. Beberapa kali ketika memasuki salah satu toko buku saya mendengar lantunan Qur'an yang tepat di sumber suara tersebut dipajang Qur'an dengan sebuah pulpen di atasnya. Setelah mencari tahu ternyata itu adalah e-pen. Sebuah pulpen yang bisa menuntun kita membaca Qur'an jika tidak tahu. Bukan hanya itu saja Qur'an ini dilengkapi dengan dengan terjemahan perkata, DVD interaktif , dan masih banyak lagi. Saya tidak menyangka perkembangannya sudah sejauh ini.

 

Tapi tetap yang lebih menarik perhatian saya adalah edisi Qur'an untuk anak-anak, My First Al-Qur'an (MYFA) E-Pen. Berwarna-warni, banyak gambar, interaktif, berbonus macam-macam juga. 
Satu lagi yang masuk daftar list yang diniatkan untuk dibeli (bantu amini ya :))






Lantas, apakah sudah sampai di sini? Rupanya belum. Ini salah satu inovasi yang sekarang ada. Smartphone android yang dilengkapi dengan aplikasi Qur'an, aplikasi haji & umrah, berbagai e-book, tafsir, panduan-panduan, dll.  Semoga perkembangan ini memudahkan. aamiin.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika membacanya saja berbuah pahala, apalagi lebih dari sekadar membacanya. 
Semoga tulisan ini menjadi pengingat pula bagi saya. 
Bismillah
Salam, 



Qha 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tuesday, August 26, 2014

arisan buku - potret usaha orangtua sekarang

 
Suatu hari, Silk mendapat pesanan dari tiga ekor tikus untuk memperbaiki gaun mereka, yang akan dihadiahkan kepada Nona Beruang pada saat Karnaval Dandelion. Sayangnya, gaun itu terlalu kecil untuk diperbaiki.

Apakah yang akan dilakukan oleh Silk, Nana dan para tikus itu memperbaiki gaun itu?

Bisakah mereka membuatkan gaun baru untuk Nona Beruang?


salah satu buku anak yang menarik :)
Belum lama ini saya membaca seri pertama Little Witch Co. Lucu, menarik,  imajinatif dan sarat hal yang mendidik. 

Bacaan menarik bagi anak adalah bacaan yang secara konten mampu mendidik dan mengembangkan diri anak baik dari segi karakter, sikap, moral, maupun imajinasi. Selain persoalan konten buku anak juga perlu menarik secara visual, isi yang tidak terlalu tebal dan juga disertai ilustrasi.

Sebagai orang yang dimanjakan oleh serial Enyd Blyton, Oki & Nirmala, Paman Gembul, Husin, dan Asta, juga seri cerita rakyat, sampai sekarang saya masih menyukai buku anak. Jadi setiap tahu ataupun menemukan buku anak yang menarik, saya akan berusaha membelinya. Itung-itung buat stok bacaan anak saya nanti :)

Karena itu saya tidak perlu berkecil hati, melihat bahwa ketersediaan buku anak yang baik masih ada di sini
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pernah mendengar tentang arisan buku anak?
Prinsipnya mirip dengan arisan biasa. Akan ada 'kocokan' tiap bulan, setiap nama yang keluar akan mendapatkan  satu set buku anak yang diarisankan.
Konon ini adalah salah satu solusi yang dilakukan orangtua agar tidak terlalu berat membeli buku untuk anak mereka yang harganya mencapai jutaan. Tidak hanya di kota-kota besar, arisan semacam ini sudah dilakukan di beberapa kota di Indonesia. 

Sebuah potret usaha orangtua  demi bacaan berkualitas untuk anak mereka.

Mungkin kelak saya akan melakukan hal serupa. Sepertinya juga cukup memudahkan kaum ibu-ibu agar dalam mengatur keuangan per bulannya *intip uang belanja*.

Fenomena di atas, menurut saya adalah juga salah satu indikator berkembangnya buku anak di Indonesia. Dimana ada ketersediaan buku-buku yang berkualitas dan orangtua yang memiliki kesadaran untuk memberikannya pada anak mereka. 

Tidak hanya itu, perkembangan ini juga diiringi dengan munculnya   bibit penulis cilik. Mulai sekitar pertengahan tahun 2000, buku anak juga dihiasi oleh para pengarang cilik. Loncatan yang baik ketika seorang anak bukan hanya membaca namun juga bisa membagikan ide dan imajinasi mereka. 

Persoalannya sekarang, 
Apakah perkembangan buku anak juga seiring dengan perkembangan minat baca pada anak-anak Indonesia? Ini yang menjadi PR bagi kita. Setidaknya di era teknologi ini kita harus pandai-pandai menyelipkan kebiasaan membaca bagi anak-anak kita. Bukan hanya berperan sebagai orang yang membelikan namun juga mendampingi mereka untuk membaca.
2 anak sedang  membaca di salah satu stand buku
Suatu ketika melihat dua orang anak duduk dengan khidmad sambil membaca buku dongeng terbitan lawas. Rasanya adem ayem tentrem. Suka.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada akhirnya ini adalah sinergi tugas bersama. Penulis & penerbit menyediakan konten yang baik, orangtua memfasilitasi, dan anak-anak membaca buku yang sesuai untuk mereka.

Semoga setiap generasinya selalu diberkahi dengan kaum pembaca buku..aamiin
Salam,



Qha 


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Monday, August 25, 2014

pernah ke pameran buku?



Hari Minggu pagi, 
Bangun lebih pagi, bersiap diri, sarapan, kemudian dimulailah perjalanan. 
Sambil berjalan, Bapak akan menggandeng tangan erat-erat sampai trotoar jalan utama. Di situ, menunggu bus yang akan membawa kami menuju Senayan. Pameran buku 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mulai dari sekian belas tahun yang lalu, buku adalah  pameran pertama yang saya kenal sebelum pameran lainnya. Bapak, orang yang berjasa mengenalkannya dan juga membuat saya menyukainya. 
Meskipun sekarang saya  mencicipi banyak sekali pameran: seni, mainan, elektronik, busana, tanaman, kuliner, dan lainnya, pameran buku selalu masuk dalam prioritas.

Waktu kecil, hal yang membuat saya menyukai pameran buku karena diskonnya. Melihat angka besar tertempel di stand-stand sangat menyenangkan. Terlebih toko buku yang sering saya kunjungi jarang memberikan diskon :(. 


Pindah ke Jogja, saya dimanjakan dengan tumpah ruahnya toko buku di mana-mana. Berbagai sudut Jogja menyediakan toko buku yang memberikan diskon sepanjang hari. Jadi, tidak perlu menunggu pameran. Akhirnya,'diskon' yang semula menjadi sasaran utama ke pameran buku mulai berganti. Saya mulai melirik hal lain dalam sebuah pameran buku. Bukan hanya diskon, melainkan ada tambahan 'acara' apa di sana. Beberapa di antaranya, yaitu:
  • Hiburan 
           Benar, hiburan kadangkala menjadi tujuan untuk menikmati pameran buku. Pernah suatu ketika saya datang ke pameran buku di Gelanggang Universitas Negeri Yogyakarta karena tertarik untuk menonton nasyid idola tampil. Rasanya seperti bertemu dua idola sekaligus (buku & grup nasyid) hehe.
  • Talkshow 
Sekarang, memang sudah mulai marak pameran buku diisi  acara talkshow dengan penulis buku. Di sini, pembaca bisa berinteraksi dengan penulis buku yang ia baca.Banyak hal yang bisa pembaca tahu dibalik buku tersebut. Namun, talkshow tidak harus melulu dengan penulis dan buku. Bisa juga tentang isu-isu yang terkait dengan dunia buku. Selama itu 'beda', sepertinya bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi pameran.
  • Diskusi Naskah Calon Penulis & Penerbit
Salah satu event yang pernah mengadakan ini adalah Bentang Street Festival 2013. Ini bukan sebuah pameran buku murni, melainkan semi festival. Di sini ada sebuah acara khusus di mana para calon penulis yang memiliki naskah bisa membawanya dan berkonsultasi langsung dengan para editor yang bersangkutan. 

Sepertinya akan menarik sekali jika dalam sebuah pameran buku ada acara yang mewadahi juga para calon penulis. Jadi dalam sebuah pameran buku tidak hanya ada interaksi pembaca, penerbit, dan toko buku, melainkan juga para calon penulis baru.
  • Dekorasi
Memasuki sebuah pameran buku, biasanya kita akan disambut oleh stand-stand buku yang berjejer. Di dalam stand akan nampak rak-rak buku yang tersusun dan juga buku yang di tumpuk begitu saja (biasanya buku diskonan). Hampir selalu seperti itu. Bukankah pameran itu ajang pamer? Ajang memperlihatkan 'sesuatu' untuk menarik pengunjung ke tempat/stand tsb. Sejauh ini saya baru melihat beberapa stand buku dalam pameran yang mendekor dengan sangat ciamik. Dekorasi yang apik bagi saya menjadi salah satu hal yang membuat betah berlama-lama melihat buku.

 
Seorang sesepuh senior dalam perbukuan pernah menceritakan pengalamannya mengunjungi Frankfurt Book Fair beberapa waktu lalu. Menurutnya, salah satu hal unik yang ada di pameran tsb adalah dekorasi setiap stand bukunya. Buku yang dipamerkan tidak hanya dijejer di dalam rak-rak secara monoton. Masing-masing stand memiliki tema tertentu. Menatanya membentuk bangunan, menggantungnya, menghiasnya. Mereka saling berkompetisi untuk menarik hati para pengunjung. Bahkan ada yang memberikan buah potong gratis bagi yang mengunjungi stand yang bersangkutan. Tak mengherankan jika event tersebut bukan hanya menjadi acara yang dinanti para penyuka buku, namun juga wisatawan. 

Waktu itu saya mendengarkan ceritanya sambil membayangkan Indonesia. Ah negara ini penuh dengan kaum kreatif, pasti bisa menyamai event seperti itu :)

Salam hangat,



Qhachan

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------







Saturday, August 23, 2014

duadua 2014 #1

Beruntung. 
Saya satu di antara beberapa orang yang merayakan hari spesial dua kali setahun.

Tidak perlu bertanya mengapa?
Awalnya memang aneh, dengan beberapa orang yang mempertanyakan. 
Nyatanya beginilah dunia, selalu ada hal misterius di dalamnya :)

Agustus, akan selalu menjadi hari perayaan bersama keluarga, 
Terimakasih untuk hadiah & doa-doa nan indah, yang terucap langsung maupun terselip dalam setiap ibadah.

lovely colors for the birthday girl woman <3
Apa yang lebih indah dari merayakannya bersama kalian dengan warna-warni kesukaan sepanjang masa. 

Salam sayang :*


Qhachan

jika kangen, pulanglah



 Mereka bilang di sini tempat dijualnya berbagai benda yang 'ngangenin', termasuk rasa kangen itu sendiri.
 (Pasar Kangen Jogja, 19 - 24 Agustus 2014)

2008, jika tidak salah..
Berarti ini sudah tahun keenam...
Hampir setiap tahun, masih diberi kesempatan untuk selalu mampir ke event ini.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kali ini menikmati jalan-jalan di Pasar Kangen dengan suasana berbeda. Iya, karena situasi dan kondisi, untuk pertama kalinya 'main' di sini siang hari. Memang beberapa gubuk di masih nampak baru saja bersiap-siap buka. Namun,  tidak mengurangi kenikmatan, bahkan cenderung lebih tenang. Suasana khas yang banyak diharapkan wanita makin berumur dewasa :)

Masih seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak banyak yang berbeda, di sini kita akan disambut oleh anjungan kuliner, anjungan kerajinan, dan panggung seni utama. Saking tidak banyak berubahnya, kita juga akan menemui para penjual yang sama dari tahun sebelumnya. Iya, jadi bisa kangen-kangenan antara penjual dan pelanggan. Sweet.

anjungan kerajinan

Langkah pertama pasti diarahkan ke anjungan tempat digelarnya berbagai kerajinan dan seni ini. Berkangen-kangenan  ria dengan barang-barang seni dan jadul dulu. Hasrat beli, motret, pingin beradu jadi satu. 

halo? kita jumpa lagi lagi lagi sandangan lawas. suka deh pajangan foto di depan standnya :)
uang yang harus dibeli dengan nominal lebih dari uang baru
buku - pajangan jadul
gak perlu takut dihubungi orang 'gak penting'
kapan lagi nemu kartu pos murah. yuk selonjor, milih-milih.


 anjungan kuliner

Habis muter-muter, maka wajib hukumnya mengganti energi yang hilang. Pokoknya tujuan utama kali ini  pengen makan sate kere - sate gajih. Biasanya beli di depan Beringharjo. Mumpung ada di sini, sekalian. Selebihnya, kita coba-coba yang menarik. hehe.

sate kere :) :)
ketupat, bacem, pecel, mie, capjae
sedih :( belum boleh minum, cuma moto deh
pembatasnya pake kain, bikin pengen digendong hehe

kentang kempel & bakso tuna
tahu mercoooonnn!!
es dung-dung
Ketemu lagi sama si manis Tita. Ada yang kenal? Punya medsosnya? Kami sering berjumpa tapi tak berteman di dunia maya hihi.
 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

2 kali di siang hari. 
Iya, dua kali ke sana. Biar kangennya tuntas. Alhamdulillah, hari kedua ke sana ditemenin sama yang dikangenin. Jadi beneran tuntas tas. Berarti benar, rasa kangen itu bisa dibayar lunas di sini. 

Masih kangen? pulanglah kemari, ke Jogja. 


Salam 


Qha & R