Wednesday, February 26, 2014

kisah keenam

"Bagaimanapun ditiadakan, jarak akan tetap ada.."

Bluk”, kututup si buku biru dengan gambar muka seekor burung dan sangkar itu.
Aku sudah tahu sedari awal, isinya mungkin agak kurang sesuai dengan usia perkembanganku  *eh. 
Toh aku tetap suka, judulnya. Sebenarnya karena perasaan senasib :|

Sudah selesai kubaca. TAMAT.

5 penulis, 5 cerita, dan 5 cinta dalam jarak

Ternyata, masalah yang dialami para tokohnya lebih pelik dibandingkan dengan masalahku [untuk ukuran perkembangan mereka hehe]. 

Aku tidak harus sepanik Shera dalam menjalani hubungan bersama si tampan Marvel. Tunggu! bukan karena R tidak tampan, tetapi lebih pada segala konflik hubungan Shera-Marvel. Di lain kisah, aku sepertinya juga tidak bisa membayangkan bagaimana Arine bisa bertahan dalam hubungan jarak jauh semenjak SMA sampai lulus kuliah. Salut, namun sama sekali tidak berniat berjarak selama itu. Sedangkan 3  kisah lainnya juga mengusung tema hubungan jarak jauh yang tak mudah bagi anak sekolah dan kuliah. 

***

Aku memang harus bersyukur. 

Permasalahan dalam hubungan berjarakku dan R masih dalam tahap cupu jika dibandingkan dengan 5 tokoh yang tertulis di novel itu. 


Masalah kami masih dalam ranah kesal karena tidak dibangunkan di saat yang djanjikan, tertidur saat ponsel masih aktif panggilan, harus merayu earphone agar tidak mengeluarkan suara gemerisiknya di saat yang tidak tepat, juga mengomel akibat sinyal yang tak kunjung bersahabat. Ah, rasanya ingin mengajukan proposal pada provider untuk membangun menara yang bisa memperlancar kiriman suara 2 insan ini [apa deh, chan].


Sedangkan masalah paling berat yang kami hadapi sekarang adalah menanti angka-angka dalam kalender bergeser  ke hari yang telah kami lingkari besar-besar.





Sampai saat ini,
aku masih di sini,  R di sana

Angka 6 sudah terlewati, meski tidak ada separuhnya kami bersama.
Tak mengapa, anggap saja ini kisah keenam yang sedang kami jalani. 
***
Aku tahu, aku bukan pengingat tanggal yang baik, sebaik dirimu. Namun hari ini aku bangun, dan mengingatnya, happy half - year anniversary, R

Selamat makan malam, semoga mengenyangkan, tetap sehat sampai angka hari yang kita nantikan :)

love,



Kachan

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Book
 LDR #CrazyLove by  Ayuwidya, Elsa Puspita, Christina Juzwar, Anjani Fitriana, Riawani Elyta
Publisher : Bentang Belia

Saturday, January 18, 2014

biru untuk hari ini


Biru. Bukan  favoritku. Hampir selalu kuhindari jika membeli apapun. 
Bagiku ia punya karakter tertentu yang tidak semua bisa cocok dengannya. Aku salah satunya.


Aku masih bertanya-tanya. Kenapa biru sering disematkan dengan kesedihan. keresahan, kegalauan hati. 
Seorang gadis periang dan menyenangkan yang kukenal sangat menyukai biru. Meski sering memakai baju biru semangatnya selalu berapi-api. 

R juga sangat suka warna biru. Namun, ia bukan tipe penggalau. Bahkan aku lebih cocok di panggil si galau dibandingkan dengannya.

Jangan-jangan ia tak selalu berasa seperti itu...
Tidak pada semua orang
***

Mungkin karena warna  hari ini,
Mungkin pula karena beberapa waktu yang lalu aku bercerita tentang pesta Prom ku pada R.
Entahlah,


Nyatanya, ia yang kuambil dari rak meja editor di seberangku..
Melengkapi hari ini...








Pagi itu aku memakainya. Dengan hati yang penuh suka. Bertemu Ayu yang hari ini berwarna sama. Bukankah menyenangkan berfoto bersama dengan bacaan pilihan kami. Sedikit bernapas di sela-sela keriuhan udara kantor. 

sore hari,
rintik hujan,
rumah putih, 
Sae Na yang tengah bimbang di antara kakak & adik  tampan, 
Elizabeth Eulberg yang berhasil menyulap pride & prejudice-Jane Austen dalam kisah cinta menarik remaja,
dan biru.


Thanks, Blue..
We're feeling so 'you' :)


Kachan & Ayu



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Book
 Prom & Prejudice (english version) by  Elizabeth Eulberg
Publisher : Penguin Book

Comic
Love for Sae Na by Hyun-Suk Yu 
Publisher : Bentang Belia

Sunday, December 22, 2013

+1 Ibu


Sepanjang hari ini Jogja di guyur hujan.
Pukul 19.10 WIB, dan  aku berada di kawasan Sudirman. Mencari mie jawa. Permintaan ibuku.
                                                         
                                         ***

Ini hari ke empat Bapak di rumah sakit.
Aku dan ibu menjaga bersama, Kami tidur di kasur sebelah Bapak. Pagi ini, begitu bangun kupeluk ibu dengan ‘lebay’ sambil bilang “selamat hari ibuuu. mau apa, bu hari ini?”. Beliau menjawab " Nanti malam makan Mie Jawa ya, kamu beliin, makan bareng di sini". Kuiyakan.
Ya, mungkin ibu bosan dengan makanan di sekitar rumah sakit. Meskipun di depan rumah sakit  berjajar tempat makan, namun masakannya serupa. Sama persis malah. 
Selain itu aku yakin bisa memenuhi keinginan  ibuku ini. Dibenakku sudah muncul nama warung Mie Jawa yang terkenal enak. 

                                          ***
Sudah hampir setengah jam berputar-putar di sekitar Jalan Sudirman, tidak kutemukan juga mie jawa. Warung mie jawa yang ada di benakku tadi siang ternyata tutup. Entah, mungkin pemiliknya pun tengah sibuk berhari ibu di rumah masing-masing. Mungkin.

Akhirnya kutepikan motorku, mengeluarkan HP, menelpon seseorang. “Mas, mie Jawa sekitar UGM di mana ya?” tanyaku tanpa babibu. Orang di seberang pulau sana, memberikan sebuah alamat warung. Segera kunyalakan motor kembali dan menuju alamat tersebut. Syukurlah, ternyata warung bakmi Jawa itu buka. Berhasil.
                                        ***
Dengan tergopoh-gopoh aku melesat di lorong-lorong rumah sakit. Sudah pukul 19.47. Aku takut ibu kelaparan.

Ternyata, Ibu memang sudah menantikan mie jawa ini daritada. Ucapan "nah, akhirnya datang juga" mengisyaratkan hal ini bukan? 

Acara makan bersama segera kami mulai. Mie jawa sudah tersaji di hadapan saya dan ibu. Mari makan.
Daaan tiba-tiba, “Kaa, kok ngga enak mienya”. Deg! Kuhampiri ibu dan mienya. Aku cicipi. Benar, ternyata ngga enak. Aku beralih ke mieku sendiri yang berbeda jenis . Kucicipi dan sama saja. Ngga enak. Sama sekali. Ah rasanya agak sedih. Merasa sedikit gagal memenuhi keinginan ibu di hari ibu. 

"Ngga papa, karena lapar jadi tetep enak kok, makasih yaa", ibu menambah. 

Ucapan terimakasih ibu masih tergiang-ngiang setelah acara makan Mie Jawa selesai. JLEB! aku tertohok. Sepertinya aku jarang mengucapkan terimakasih untuk hal-hal yang lebih besar dari ini. Betapa banyak ingin yang kuminta dari ibu  sepanjang usia ini. Lebih dari sekadar ingin makan Mie Jawa. Dan, lupa untuk mengatakan terimakasih. 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebelum menyelesaikan tulisan ini. Aku memberi diriku waktu 10 menit.Mengingat-ingat, kemudian  menuliskannya, hal-hal yang  membuatku mengucapkan terimakasih pada ibu. 
10 menit ini berbunyi sesuai ingatku . . .

terimakasih, untuk...
- gendongan cepat dan tepukkan hangat ketika jari manisku terluka saat aku mencoba     memotong kuku sendiri, 1992
tidak memarahiku yang memberhentikan tukang jamu, beli & meminumnya, kemudian kabur dan ngumpet di balik meja karena ngga punya uang buat bayar, yang akhirnya penjual Jamu itu mencarimu, 1993
- menceritakan banyak  cerita dongeng sebelum tidur,  hingga 1998
binar sedih namun lega di hari bahagia anakmu ini. Ya, di hari bahagia anakmu dengan pria yang memberi alamat Mie Jawa tadi. Nanti akan kucubit lengannya saat iya pulang, karena memberikan saran yang   Agustus 2013






Pernahkah kamu mengingat kebaikan-kebaikan ibumu?
10 menit saja, tuliskanlah



Salam..


Anak ragil ibu 

Tuesday, November 12, 2013

Selesai ditulis 10.24 pm


Selamat malam,

Sekarang di sini pukul 9.48, 10.48 di sana.

Meninggalkanmu sejenak di ujung telepon. Mengerjakan PR ucapku. Iya ini PR penting bukan?


Maaf,  tadi malam aku mengantuk dan ketiduran di telpon. Dipukul 23. 30 an menit.
Menjelang 30 menit menuju hari ini. Iya, aku gagal memberi ujian tepat di pukul 00.01.
Kurang romantis menurutmu.
Setidak romantis saat aku bertanya langsung padamu 'mau kado apa?', 'alamat kantormu?'.
Belum lagi kenyataan sampai sekarang aku belum sempat mencarikan hadiah untukmu. Maaf yang kedua ya.
Tapi aku janji akan menyicilnya :)


 hah apa ini? 2008 

Selamat hari lahir kekasihku, sahabatku..
doa-doa baik untukmu sepanjang masa..

Ayo pulang, kita buat segudang foto bersama. Agar aku tak perlu mengais-ngais foto2 di foldermu untuk menemukan sisa pertemanan kita...





Salam ,


Si istri

Thursday, October 31, 2013

Jogjaku Terang, Jogjaku Nyaman


Ada satu kebiasaan masa kecil yang dulu sering saya lakukan bersama pasangan kakek-nenek tetangga untuk menikmati Jakarta. Saya mengelilingi Jakarta bersama Kakek & Nenek  dengan mobil tua mereka. Mereka minta ditemani untuk bernostalgia dengan mobil tua, saya menemani sambil menikmati lampu-lampu cantik di sepanjang jalan.  Kami berjasama dengan baik. Hampir setiap minggu J

Dari balik kaca mobil yang hampir sudah tidak bisa ditutup itu saya menikmati cahaya berwarna-warni di sepanjang jalan. Favorit saya adalah gedung-gedung di sepanjang Kuningan, Sudirman, dan tentu saja kawasan Monas.

Saya terpikat pesona cahaya lampu-lampu kota,
sejak itu saya sangat menyukai Jakarta, dimalam hari.
***

“Kota Terang Hemat Energi”
Pernah mendengar tentang ini? Saya pernah, tepatnya baru saja. Meski jargon tsb sudah ada semenjak tahun lalu, jujur saya baru benar-benar tahu belum lama ini.  Nah, Kota Terang Hemat Energi (KTHE) adalah program  kerjasama Philips dan pemerintah untuk mewujudkan kota terang yang nyaman huni.

Kota berbeda dengan desa. Hunian di kota lebih padat dibanding desa. Umumnya di lingkungan kota sulit ditemukan lahan kosong. Solusinya, dibangun banyak ruang publik di kota. Gunanya? Tentu saja agar masyarakat kota punya ruang yang bisa digunakan untuk kegiatan mereka. Untuk kumpul komunitas, ngobrol, atau sekedar kongkow.

Dan disinilah KTHE ingin berperan. Memberi penerangan bagi ruang publik di malam hari. Pencahayaan ruang publik yang baik dipercaya akan mampu meningkatkan perannya terhadap masyarakat. Ruang publik tersebut akan tetap nyaman dalam suasana malam sekalipun. Mungkin bahkan jauh lebih nyaman & menarik daripada siang hari.

Sebagai awalan, KTHE melirik landmark kota sebagai ruang publik yang banyak didatangi masyarakat untuk di terangi dengan cahaya lampu-lampu LED Philips.  Dan tahun lalu, Monas adalah ikon landmark pertama yang diterangi sedemikian rupa.



Monas saat itu diterangi oleh puluhan? Ratusan? Atau mungkin ribuan lampu LED. Cantik ya. . .
Bukan hanya sekedar menerangi, KTHE juga mengenalkan masyarakat pada lampu hemat energi Philips LED. 

Yang belum tahu, Lampu Philips LED itu memang bukan sekadar lampu biasa (saya pake lho? *kayak promosi*).  Eh tapi beneran, Philips LED ini memang produk  yang inovatif yang hemat energi.  Lampu Philips LED ini sangat aman dan ramah terhadap lingkungan. Lampunya  ngga mudah panas dan cahayanya juga nyaman dimata. Bisa pelototin lampu berjam-jam kalau mau  ;p.  Selain itu, lampu ini juga bergaransi 2 tahun, mantab kan? Dan yang ngga kalah WOWnya, si lampu Philips LED ini tahan hingga 15 tahun. Iya 15 tahun. Hha?  Kebayang ngga? Jadi kalau kamu pakai lampu Philips LED saat  baru masuk kuliah trus pas lampunya diganti kamu masih juga dibangku kuliah (yang sama), itu kebangetan BANGEEEET (ngga nyantai). Ngga salah emang si Philips ini pake tagline “Satu Lampunya, Panjang Umurnya”. Panjang banget umurnya ya. Cahayanya bisa menjadi saksi banyak kisah J.

Nah beberapa hari yang lalu saya dapat informasi kalau kota yang disambangi Philips untuk program KTHE selanjutnya adalah Jogjaaaa. Bisa tebak ikon apa kira-kira yang akan di percantik dengan lampu-lampu Philips LED?
Iya, saya tahu kalian pasti benar menebaknya. Tentu apalagi ikon kota ini kalau bukaaaaan Tugu Jogja. Yak, setelah belum lama diperlebar, dicat, di buatkan taman, daaan sekarang akan dipercantik dengan lampu-lampu. Kira-kira seperti apa ya nanti? Semakin menarikkah? atau? 

Nah, dari pada menduga-duga, besok Sabtu teman-teman bisa melihatnya secara langsung. Buat teman-teman yang penasaran, bisa langsung hadir untuk menyaksikannya di hari Sabtu 2 November nanti di tugu Jogja. 
KTHE hadir bukan hanya sekedar menerangi tugu Jogja. Ada banyak lomba-lomba yang bisa teman-teman ikuti. Coba cek di infonya di https://www.facebook.com/PhilipsLightingIndonesia/app_143894575791504



***
Semoga penerangan Philips di Tugu Jogja bisa menjadi doa juga agar kita dan Jogja bisa terus bercahaya dalam hidup.


Jogjaku benderang, jogjaku nyaman..
Salam


Kachan






Monday, August 12, 2013

tak (banyak) berkata


harusnya sudah beritme


sampai tiba-tiba ia muncul tanpa tanda-tanda 
dan...kembali mulai berpikir...


 ditimbang tertimbang menimbang...
bersama mereka, memandangi laut di siang itu adalah pilihanku :)





suatu hari di minggu ketiga Juni 



                   qha

Tuesday, December 25, 2012

river tubing sungai oyo-main air #1

bulan november saya sebut dengan bulan pertemuan,
bulan itu saya bertemu kembali dengan banyak orang 
dan beberapa diantaranya adalah  dengan teman-teman  di masa puber hehe...

setelah puas berwisata di dalam kota yogyakarta, kami menelusuri wilayah lain.
dan yang terpilih adalah goa pindulGelaran Bejiharjo Karangmojo Gunungkidul.. 
yak, wisata ini memang sedang sangat cettarr membahana setahun belakangan ini. 

awalnya saya sempat ogah-ogahan untuk ikut ke tempat ini. jika masih ada alternatif yang lain, wisata goa adalah pilihan terakhir bagi saya. syukurlah, ternyata di wisata goa pindul bukan hanya menawarkan cave tubing-nya tetapi juga ada trip goa gelatik, off road desa, dan  river tubing. jadilah kami memilih yang terakhir hehe..terimakasih teman-teman :')

wisata di sini dikelola lebih dari satu operator (mungkin 2/3). saya kurang tahu apakah harga di setiap operator sama   atau tidak. di tempat yang kami pilih 1 trip river tubing sungai oyo adalah 50 ribu/orang. nah, berhubung  salah seorang teman kami, anjas, sudah sering menampakkan wajah di sana, dia hanya bayar separuh harga. jadi masing-masing kami menjadi 45 ribu/orang.  sudah termasuk guide, mobil antar-jemput, pelampung, dan sepatu 'karet' pak tani. 


bang acil-gama-anjas-pare-qha-onik





meski sudah bulan november, saat itu masih kemarau. debit sungai oyo tidak tinggi, bebatuan yang konon jika di musim hujan tidak akan nampak justru memamerkan dirinya secara utuh. 

selama perjalanan pemandangan kiri kanan yang terlihat adalah tebing batu karst, batuan khas gunungkidul. malah pengen manjat daripada nyusuri sungainya :D. sungguh lebih cantik melihat secara langsung dibandingkan di photo ini hehe. nuansanya bagai berada di jaman batu. sayangnya, tidak berhasil bertemu dengan fred dan wilma flintstone :(





di dua pertiga perjalanan mulai nampak spot dimana orang-orang ramai berkumpul. 
semakin mendekat, saya pun tahu. 

      'gak mauuuuu!!', teriak  saya
      'katanya mapala', celetuk salah seorang teman.
      haishhhh  -___- mapala kan mahasiswa pecinta alam, bukan mahasiswa penyuka terjun bebas di air. 

sudah saya jelaskan bahwa saya ga suka air dan gak cocok main di air, gak suka mandi, dan segala hal yang bisa membantu untuk tidak terjun...tetapi, mereka lebih 'beringas' (istilah saya hhe) akhirnya, yuk mari 4 meter...



namun, belum selesai lho, 
disebelahnya sudah menanti spot terjun 10 meter
di gambar nampak biasa saja, tapi kalau berada di atasnya dan mengintip ke bawah *menghelanapas*
mungkin  para pria menyadari 2 gadis yang bersama mereka tidak meyakinkan/cenderung membahayakan jika turut serta. akhirnya mereka dengan refleks meminta duet gegadis ini untuk turun dengan terhormat tanpa terjun. tentu saja kesempatan ini saya gunakan untuk melipir dengan cantik *alhamdulillah*
sedangkan mereka yang dianugerahi rasa penasaran, gengsi, serta harga diri tetap harus melanjutkan tantangan hehe..[jadi lupa emansipasi]

melipir cantik:)
selesai serangkaian permainan loncat indah, sisa perjalanan di lanjutkan dengan rafting dengan perahu karet. entah ini harus dibilang rafting atau duduk manis di atas perahu hehe. di saat yang lain berpose dan menikmati pemandangan, saya malah sibuk mengingat materi diklat air buat ndayung ' tarik, pancung, panjang, dalam...' 

river tubing di sungai oyo menghabiskan waktu sekitar 1-2 jam. tergantung berapa lama main di air terjunnya. 
oh ya, sepertinya akan lebih menyenangkan berwisata di sana di musim hujan. setidaknya akan ada arusnya jadi aliran airnya ngga datar dan nanggung. dan juga tidak terantuk-antuk bebatuan saat bertubbing ria. begitu teman-teman,,,

(bersambung ya..)

yuk main ke jogja, 
salam 



-Qha-