book | travel | food

Saturday, May 30, 2015

WeLoveIndi so WeLoveIndiHome

"Kul, aku baru aja dapet info TV kabel lagi".
 Suara suami diujung telepon terdengar antusias. Seperti biasa.
"Ini aku dapet info langsung dari Mas Roy (bukan nama sebenarnya)". Ia kembali menambahkan.
Ini adalah usaha ke 5-nya untuk mempengaruhi istrinya ini. Tepatnya untuk memasang TV kabel di rumah. Empat usaha sebelumnya gagal di tengah jalan. Iya, dia bagaikan balik badan tanpa dikomando saat saya mulai membacakan daftar pengeluaran keluarga kecil kami yang bak pantun berpuluh-puluh bait. Panjang dan berima. 

Kali ini masih sama. Saya menanggapinya dengan biasa saja. Dengan pertanyaan-pertanyaan umum seperti sebelumnya.  Kelebihannya apa? Biayanya berapa? Biaya pemasangannya berapa?. 

Nah, dia mulai meyakinkan saya dengan hal yang selalu saya garisbawahi ini, soal biaya. Lebih murah dan irit. Kurang lebih seperti itu. Sayang saya sangat mengantuk malam itu. Jadi hanya mendengar penjelasannya sayup-sayup. Satu-satunya yang saya ingat, karena dijadikan senjata pamungkasnya adalah "Kalo kita pasang, cocok banget buat keluarga kita. IndiHome, namanya sama kayak si dedek kan, Indi (anak kami) haha?", candanya. Saya menimpali dengan ikut tertawa ngekek. Lalu tidur.

***
Pembicaraan kami di telpon tidak dilanjutkan hingga beberapa hari. 
Sampai suatu hari, di pertengahan Mei kemarin saya berkesempatan hadir di sebuah acara santai di Cafe yang hangat bernuansa London.  

Malam hari itu hadir beberapa jajaran manajemen Telkom di antaranya Bapak Iwan dan Ibu Erna. Beliau-beliau ini  sharing berbagai hal tentang layanan IndiHome.

Malam itu saya baru tahu, ternyata IndiHome adalah layanan berbasis triple play. Triple Play di sini artinya, IndiHome menyediakan tiga layanan langsung berupa layanan internet, telepon rumah, dan TV kabel.

Nah, nah, nah, sebagai emak-emak yang sehari-hari hidup bergantung dan mencari kesenangan serta pencerahan via internet saya langsung mendengarkan dengan seksama. Terutama soal biayanya. Mulai dari Rp 290.000,- /bulan untuk kecepatan internet 10 Mbps, 99 channel TV kabel, dan gratis 1000 menit nelpon lokal/interlokal. 

Sambil mendengarkan, isi kepala saya sibuk mengkalkulasi. Saya banyak melakukan pekerjaan menggunakan internet, dan selalu saya lakukan di rumah khususnya untuk kegiatan blogging. Jika dihitung-hitung dalam sebulan saya menggunakan paket internet dengan biaya  100.000,  sebanyak 2 kali paket. Atau mengeluarkan sebesar Rp 200.000,-/bulan hanya untuk internet saja. Sedangkan jika berlangganan IndiHome dan membayar Rp 290.000,- saya bisa mendapata tambahan TV kabel dan telepon. Wow. Otak Emak pun langsung tercerahkan :D.
Terlebih, layanan Internet IndiHome menggunakan teknologi canggih dan terbaru Fiber, yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan kabel coax atau copper. Internetan jadi lebih super cepat karena fiber mampu menransfer data hingga ratuan Mbps. Blogger nangis bahagia denger ini. Kabel fiber juga tahan dari kondisi cuaca buruk seperti hujan deras yang disertai petir, sehingga lebih aman. Jaringannya sendiri lebih stabil.

Apalagi TV kabelnya, yang disebut UseeTV bukan hanya memberikan 99 channel tetapi juga memberi layanan rekam otomatis selama 7 hari kebelakang. Jadi tanpa di setting macem-macem atau pencet ini-itu semua acara sudah langsung terekam secara otomatis. Ngga ada deh ceritanya nangis ketinggalan episode drama korea karena sibuk tidur siang. Ihihi. Dan dengan adanya sport channel juga pasti bikin si suami senang. Kasian banget si mas suami selama ini cuma liat hasil pertandingan liga-liga kesayangannya via livescore.com. 



Saya sebenarnya termasuk orang yang jarang nonton TV. Bukan karena tidak suka melainkan karena memang lebih menikmati membaca. Menambah pengetahuan dan informasi bagi saya lebih nyaman dengan membaca. Namun, ternyata hal ini bisa bergeser dan butuh penyesuaian tergantung pada kondisi kehidupan kita. Begitu yang terjadi pada saya. Kegiatan membaca bagi seorang ibu dengan putri kecil berusia 6 bulan menjadi hal yang tidak selalu bisa dilakukan. Pernah saat baru membaca judul headline  ternyata si Indi sudah sibuk ngunyah ujung koran tersebut. Haduh. Atau baru mulai membaca sebuah buku, si Indi malah teriak-teriak minta main. Alhasil kegiatan membaca ter-pause dengn cantik. 

Untuk itu memang akhirnya saya mulai melirik TV kabel. Karena menyediakan banyak channel mulai dari berita, pengetahuan, sampai entertainment. Dan  saya tidak harus membaca karena bisa didengar dan dilihat. Apalagi bisa disambi masak. 

Nampaknya IndiHome ini adalah salah satu solusi yang bisa dipertimbangkan. 
Dengan paket hemat bisa mendapatkan banyak manfaat. 

 
foto oleh Taruli :)
***
Bisa ditebak dong ya, gimana akhirnya?
Yup, tentu saja sang istri langsung meng-Acc bujukan suaminya beberapa waktu lalu. Untuk layanan yang bermanfaat dan hemat, kenapa engga, ya kan? :)




Salam

Wednesday, May 13, 2015

Dialog Pagi di Puncak Menoreh


“Kapaan?”, tanyanya dengan setengah berteriak sesaat sebelum menaiki anak tangga pertamanya.

“Eh, hah, apa?”, aku sedikit kaget karena masih fokus dengan badan yang agak gemetaran. Selain karena udara pagi buta yang cukup cukup dingin, juga karena mengendarai motor di jalur yang agak curam dan mendaki selalu meninggalkan sensasi gemetar di tubuhku.

“Baiklah, aku pura-pura tidak tau sampai kita sampai di Puncak”, gadis di depanku berkata sebelum aku menjawab apa-apa.

Sambil menggosok-gosok kedua telapak tangan untuk mengusir dingin, aku mengangguk kecil. Tidak terlalu mempedulikan reaksi temanku. Pandanganku sudah terpaku. Di depanku sudah menanti anak tangga yang tersusun dengan rapi. Nampak seperti tentara yang tengah berbaris. Suasana pagi yang masih menyisakan kegelapan, serta kelokan tangga di ujung pandangan mata membuatku tidak bisa melihat puncak anak tangga ini. Tertutup pepohonan, atau karena puncaknya begitu tinggi hingga tak terlihat. Atau jangan-jangan...

“Seperti tidak berujung ya?”Andin, gadis yang berjalan di depanku seperti menyuarakan apa yang kupikirkan. Seperti biasa.

“Iya, mungkin sebenarnya memang tak berujung”, jawabku sambil memberikan cengiran. Pasti menyenangkan jika ratusan anak tangga yang menghampar di depanku ini mengarah ke atas atas dan tak berujung.

“Eh Jia, bukankah kita berdua seperti bidadari yang sedang berjalan pulang kembali ke kahyangan”

Aku mendengarkan perkataan Andin sembari menyadari sekitar. Andin benar. Anak tangga yang tersusun ini mengarah ke atas nampak menuju ke langit. Tentu saja, karena tangga-tangga ini tertanam di bukit paling tinggi di Kota ini. Di kiri kanan kami hanya nampak pepohonan. Terlebih saat melihat ke belakang. Tangga yang telah kami lewati tertutup kabut tipis romantis. Kabut yang nampak abadi karena selalu ada jika kita ke sini di pagi, siang, maupun sore hari. Ah rasanya seperti benar-benar menaiki tangga kahyangan.

“Kamu pernah dengar bahwa Himalaya, puncak tertinggi dunia, oleh kepercayaan tertentu diyakini sebagai tempat tinggal para Dewa. Konon, puncak ini dibuat sebagai peraga kediaman Dewa di Pulau Jawa. Bisa jadi benar. Kita memang sedang menuju kahyangan”, ucapku.

“Wow”. Matanya membulat ketika merespon.

“Tapiii, lebih tepatnya, kita ini dua bidadari nakal yang keasikan main di bumi, lantas baru pagi buta ingat untuk kembali ke kahyangan”

“Haha, benar”, ucapnya.


***

“Aaandiiin, aku mau menikaaah”, kataku sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin. Tidak lama setelah kami menginjakkan kaki di puncak bukit.

“Jiaaaaa” Andin lompat kearahku, kemudian memelukku.

Kamipun berpelukan sambil melompat heboh. Gaya heboh khas kami. Masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Lompat sambil berpelukan. Sesuatu yang agak aneh jika dilakukan sepasang sahabat pria. Haha, inilah enaknya jadi wanita. Untunglah beberapa orang yang juga ada di puncak tidak terusik dengan kehebohan kami. Mereka nampaknya tengah damai menikmati pemandangan dunia dari puncak kahyangan ini.

 “Tapi, aku sudah tauuu hahaa”, ucapnya sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipi kirinya.

“Ahhhh, pasti deh...kali ini tau dari mana?” tanyaku sembari tak lupa menyematkan mimik kesal.

“Suroloyo, tempat yang kamu pilih untuk trip kita ini. Aku sudah bisa menebaknya”

“Karena?”

“Mudah banget. Suro – berani dan Loyo – Mati. Nama tempat ini ‘berani mati’, ya kira-kira begitu setidaknya dari hasil googling-ku. Nah, ingat, Ngga? Dulu kamu pernah bilang, bagimu pernikahan adalah kematian kecil. Di mana seseorang seperti harus mematikan dirinya yang lama dan menghidupkan dirinya menjadi orang baru, tugas baru, status baru. Tak akan sama lagi ucapmu. Saat kamu sebutkan nama tempat yang akan kita kunjungi ini aku tau kalau kamu sudah siap untuk kematian kecilmu”.

“Ah, sial, harusnya aku memilih tempat yang lebih sulit lagi”. 
Aku sebenarnya tidak perlu merasa heran. Beginilah cara kami bersahabat, hingga saat ini. Selalu bisa saling menebak apapun dari tanda-tanda semesta tanpa ucapan. Persahabatan kami cukup berbeda dibanding yang lain. Kami tidak sering berkomunikasi secara langsung maupun melalui segala media. Ini adalah pertemuan setelah  2 taun kami tidak bertemu dan berkabar. Aku iseng mengirim pesan di sosial media. “Suroloyo, siap menanti kita”. Sesingkat itu. Dan, tidak sampai setengah hari muncul balasan. “Jiaa, barusan aku sampe Jogja.  Jam 4 pagi besok kita ketemu di tempat yang pasti kamu tau”. Aku yakin Andin akan sama tertawanya sepertiku melihat pesan masing-masing. Sangat kebetulan. Selalu seperti itu. Begitulah, kami selalu ditakdirkan bertemu di waktu yang seharusnya.

“Aku rasa tempat ini memang tepat. Lihat...”, Andin berkata sambil menunjuk ke satu arah.

Tanpa menjawab, sepertinya aku mengerti yang dimaksud Andin. Mataku melihat ke kabut-kabut pagi yang mulai berarak pergi. Cahaya di sana mulai naik memancarkan percikannya. Cahaya kehidupan.

“Kematian kecilmu akan menjadi awal kehidupan baru yang indah, seperti ini”, tambahnya.


sumber: tourbalijava.com
Aku tidak langsung menimpalinya. Mataku melihat 2 pasangan manis yang ada di sana. Sumbing – Sindoro dan Merapi – Merbabu. Di arah yang sama bisa kulihat samar-samar Candi Borobudur yang tetap menyiratkan aura megah meski dalam ukuran mini. Pemandangan pagi yang begitu menghidupkan hati. Kualihkan pandanganku ke arah sebaliknya. Ada garis batas horizon gelap yang terlihat. Yang kutahu itu batas garis pantai. Mungkin Pantai Glagah, Kulon Progo. Sekarang, aku benar-benar sedang berdiri tepat di perbatasan. Separuh badanku masuk wilayah Magelang, separuh lagi masuk Jogja. Sekarang akupun sedang ada di batas kehidupanku menuju tingkat selanjutnya. Mungkinkah...

“Tenang Jingga Maharani, Mas bergigi rapimu pasti orang yang tepat sebagai partner untuk hidup kembali dari kematian kecilmu” ucapnya sambil terkekeh.

“Andiin, daasar...udah ngga usah sok nebak-nebak apa yang aku pikirin”.

Bercakap-cakap dengan sahabat selalu menjadi momen manis. Ada kalanya kamu ingin berbagi tanpa harus berkata banyak namun orang itu bisa paham dan memberikan respon sesuai, begitulah aku dan sahabatku. Terlebih kami seperti bisa saling menerka apa yang ada dipikiran masing-masing. Pagi, sahabat, puncak kahyangan, dan sebuah kabar baik bukankah sesuatu yang sempurna? 

“Eh, Ndin, sepertinya aku tahu kemana kamu akan mengajakku saat memberikan kabar baikmu”, celetukku.


“Haha...Jia, yang penting sekarang bukan kemananya tapi kabar baikku dengan siapanya hahahaaa”.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .